Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru
KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, sal...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, sal...
SEJAK awal 1980-an,ogoh-ogoh menjadi tradisi baru menyertai upacara ngerupuk menjelang Nyepi. Tradisi ini dimulai dari Kota Denpasar yang kala itu menjadi ibu kota Kabupaten Badun...
FILM “Mungkin Kita Perlu Waktu” garapan sutradara Teddy Soeriaatmadja, produksi Kathanika Films, Adhya Pictures, dan Karuna Pictures merilis Official Poster (24/03). Film bergenre...
DI Desa Les, gunung dan laut saling berhadapan. Sebab itulah nyegara-gunung dalam Les Ngembak Festival, Minggu, 30 Maret 2025, diabadikan sebagai akar filosofis—ruh festival merek...
CHAIRIL Anwar adalah sosok legendaris dalam dunia sastra Indonesia. Puisinya yang penuh dengan semangat kebebasan dan kegelisahan hidup telah menginspirasi banyak generasi, termas...
USAI Hari Raya Nyepi, setelah mengurus acara Les Ngembak Festival di Desa Les, Tejakula, saya sedikit bisa meluangkan waktu untuk berkunjung dan santai di Pagi Motley Studio, di D...
BOB DYLAN dalam lagunya berjudul Like a Rolling Stone bertutur karma, pembalasan itu ada, pasti akan tiba. Datangnya segera atau kapan, kita sendiri tidak pernah tahu kapan akibat...
HUJAN deras sejak siang mengguyur di Les Ngembak Festival 2025 pada Ahad, 30 Maret 2025, di Pantai Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng-Bali. Orang-orang sudah rama...
BERTEPATAN dengan perayaan Ngembak Geni, sembari diselimuti hawa dingin Kintamani dan hujan yang mengguyur dari langit yang tinggi, bertempat di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur p...
LELAKI itu jarang diperhatikan. Nyaris dilupakan. Padahal ia punya peran penting. Jika tak ada lelaki itu, barangkali prosesi dan euforia ogoh-ogoh saat malam pengerupukan menjela...