Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan" di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunj...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan" di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunj...
DALAM salah satu pengantar buku puisinya, penyair M. Aan Mansyur menulis begini: "Percakapan adalah salah satu perihal paling manusiawi, dan memanusiakan, yang bisa kita lakukan u...
"Om Angga kerjanya santai, ya?" Ibu pemilik sebuah warung makan berkata pada saya, sekitar dua bulan lalu. Pertanyaan itu terlontar, mungkin, karena saya sering makan di warungnya...
KALA Teater yang didirikan di Makassar pada Februari 2006 hingga kini tak henti bekerja, di atas panggung atau di luar panggung pementasa, Tahun ini, Kala Teater memproduksi...
BELUM juga malam. Sinar matahari masih tersisa di antara barisan awan di langit barat. Para undangan mulai memenuhi areal Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Bali....
PULAU Peninsula, The Nusa Dua, Bali akan menjadi pusat perhelatan “Kartini Fest 2025”. Event yang digelar Gloria Event Organizer dan Yayasan Gloria ini mengusung tema “Semangat Ka...
BELAKANGAN ini saya melihat ibu saya makin tertarik pada berbagai promosi jamu pelangsing yang muncul di media sosial, terutama di facebook. Klaim-klaim seperti "turun berat badan...
BUS bergerak pelan, terkadang sangat perlahan, membuat kami yang duduk di dalamnya bisa dengan leluasa melihat keluar—lewat jendela—pemandangan ramai kota. Rumah-rumah, gedung, ta...
SUASANA di Fashion Hall, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store Day Market Bali 2025 digelar pada Sabtu-Minggu...
Perspektif politik hukum tanah masyarakat adat di Bali; tanah bukan bagi turisme tetapi bagi kesejahteraan masyarakat Bali * Foucault di dalam power/knowledge, apa yan...