INVESTOR GELAP KUASAI BALI
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Oktober 2025 Jika Indonesia dikhawatirkan bermasa depan gelap, bagaimana dengan Bali? Dalam kasus Bali, masa depan Bali akan buram menuju gel...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Oktober 2025 Jika Indonesia dikhawatirkan bermasa depan gelap, bagaimana dengan Bali? Dalam kasus Bali, masa depan Bali akan buram menuju gel...
SORE, 25 Oktober 2025, suasana Ruang Santay Coffee & Tea Renon Denpasar terasa hangat dan bersahabat. Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Udayana menggelar acara “...
Ketika menyaksikan anak-anak muda tampil dalam lomba Dharmawacana Bahasa Inggris di ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32, serasa ada yang tersedot oleh aksi mereka. Kata-katanya l...
Aku memulai perjalanan menuju Kota Surabaya dengan perasaan campur aduk antara antusias dan gugup. Kereta Api Sritanjung berhenti di Stasiun Purwosari untuk menjemput para penumpa...
Sebelum berbicara tentang Budaya Bali Kini, saya mencoba bertanya pada diri tentang Budaya Bali Kita? Kita berarti ada saya di dalamnya, dan juga ada mereka di sisi yang lain....
PELAYAN yang biasanya menyapa mereka tidak ada malam itu. Nadine memperhatikan pintu sebentar, seolah menunggu seseorang yang tidak akan datang. Angin malam berhembus lebih kencan...
OH, MEME, IBUKU! Bunga rampai di atas janur dipersembahkanDi bawah ketupat aku melihat, sebilah pisauPerempuan-perempuan menari terbelengguBergumam menghadap Bhatara Entah a...
Dalam mitologi Yunani, Pandora berkaitan dengan kisah penciptaan, keindahan dan kepiluan. Kisah itu ditulis oleh Hesiodos, seorang penyair Yunani, sekitar 700 SM. Diceritakan Prom...
Kembali pada Kesadaran Kesatuan Kita hidup di zaman serba cepat, penuh koneksi digital, namun justru miskin keintiman batin. Dunia yang tampak saling terhubung ini sebenarnya t...
RUANG Paseban Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Jumat (24/10), dipenuhi dengan antusiasme, keceriaan, dan ketegangan. Suasana tersebut mewarnai gelaran puncak Pekan...