"Mebalih Jegog Malu" di Jegog Spirit Festival 2025
HUJAN mengguyur Jembrana dari sore hari, Jumat, 19 Desember 2025. Namun tetabuhan Jegog tetap terdengar dari pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Festival Spirit Jegog Jembrana...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
HUJAN mengguyur Jembrana dari sore hari, Jumat, 19 Desember 2025. Namun tetabuhan Jegog tetap terdengar dari pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Festival Spirit Jegog Jembrana...
Hari pertama Jegog Spirit Festival 2025, Jumat, 19 Desember, di Anjungan Cerdas Rambut Siwi, Jembrana, diisi dengan berbagai kegitaan edukatif dan kompetisi, sekaligus meriah. Itu...
AKHIR tahun di Denpasar selalu punya dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi ruang perayaan, temu kreativitas, dan etalase budaya yang hidup. Di sisi lain, langit kerap menyimpan keju...
Tak ada yang dapat sepenuhnya menghindar dari lagu ini, sebab jejaknya telah lama terpahat dalam ingatan: “I Love You More Than You’ll Ever Know” dari Blood, Sweat & Tears. Di...
Tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak melakukan pembangunan. Pembangunan akan terus berlangsung seiring dengan perjalanan sebuah negara. Dalam prosesnya, pembangunan harus...
HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerja...
SKETSA MALAM Saban malam kau berceritaseseorang yang memahat mayatnyamenjelma penari api oleh dendamnya. Kegilaan mempesona jiwanya menemukangua purba dan lukisan perburuan...
BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, s...
MENGUSUNG tema wisata, literasi, seni, dan budaya, sebuah acara “dadakan” diadakan di Desa Adat Gulinten, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Kegiatan ini sebagai ajang b...
PERJALANAN saya ke Kota Jakarta kali ini memang berbeda. Sudah 15 kali ke Jakarta, naik bus 6 kali, 9 kali naik pesawat udara. Tapi kali ini saya naik kereta api dari Surabaya, te...