ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital
SAAT anda, suatu ketika merasa lelah oleh kesumpekan tata ruang Ubud kini, segeralah cari dan menyelinap masuk dan duduk di beranda atau sudut mana saja di area Museum ARMA. And...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
SAAT anda, suatu ketika merasa lelah oleh kesumpekan tata ruang Ubud kini, segeralah cari dan menyelinap masuk dan duduk di beranda atau sudut mana saja di area Museum ARMA. And...
Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwea...
BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa dalam potongan...
SERAT Gatholoco menjadi sesuatu yang kontroversial di dunia spiritual. Bukan hanya isinya. Gambaran fisik siapa sosok Gatholoco (ada pula yang menulis Gatholotjo) dan siapa di bal...
“Song Within a Song” adalah salah satu karya klasik Camel yang paling atmosferik: melayang, anggun, dan kaya nuansa. Lagu ini dibangun dari dua bait sederhana, nyaris seperti mant...
Pada tanggal 9 Januari 2026, saya menghadiri satu pameran seni yang paling berkesan di pembukaan tahun 2026 ini. Lokasi pameran terletak di Dalam Seniman Cofee Renon. Pameran seni...
POLEMIK Nyepi tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari ketidakjelasan otoritas normatif dalam agama Hindu di Indonesia. Setiap tahun, perbedaan penetapan hari Nyepi memicu ke...
DI tengah gemerlap bandara, di antara langkah-langkah cepat para wisatawan dan suara pengumuman keberangkatan - berdirilah seorang perempuan muda bernama Khairun Nisa. Seragam pra...
PERGANTIAN tahun selalu membawa ruang jeda yang penting. Di dalamnya tersirat tentang waktu untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah dengan kesadaran baru. Dala...
LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui...