Musang Menulis Rindu | Cerpen Khairul A. El Maliky
MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan...
Shastra selalu menemukan cara untuk mengalirkan dirinya. Tidak peduli apakah aliran itu dengan sengaja dibuatkan celah, atau dibendung dengan ketidakpedulian terhadapnya. Dengan begitu, pada tiap-tiap zaman kita akan selalu menemukan seseorang yang merelakan dirinya untuk menjadi ‘korban’.
Dua puluh lima oktober tahun dua ribu dua puluh, kelak akan dikenang sebagai sejarah bahwa di Bangli, parade pembacaan puisi berbahasa Bali sekaligus diskusi pernah dilakukan. Itu artinya Bangli meneruskan tradisi shastra yang konon bisa dicari silsilahnya sampai ke tahun 804 Shaka. Tentu dengan catatan apakah prasasti Sukawana yang termayur itu bisa dimasukkan sebagai shastra?
Pertanyaan usang ini memang terus-menerus didaur ulang dengan berbagai latar belakang. Kita bisa saja mengutip-ngutip pendapat banyak orang tentang ‘apakah shastra?’, salah satunya Andreas Teeuw untuk memberikan jawaban dengan kadar keilmiahan yang bagus. Tapi kita tidak sedang dalam perdebatan pengertian semacam itu. Kita sedang membicarakan tentang aliran shastra yang mengalir ke tiap-tiap kanal hati manusia.
Bangli Sastra Komala baru lima setengah tahun umurnya. Perayaan dengan diskusi dan ‘pesta’ baca puisi digelar tidak dengan meriah, tapi istimewa. Perayaan itu sekaligus memperingati serratus sepuluh tahun sastra Bali Modern sesuai hasil studi Nyoman Darma Putra [2010]. Antari dan Mardi adalah dua orang menjadi bintang – tanpa mengurangi arti penting kawan-kawan yang datang -- dalam diskusi yang digelar di Umah Bata. Keduanya sama-sama masih mahasiswa, tapi jam terbangnya bisa dibandingkan dengan pengajar-pengajarnya. Keberanian yang dimiliki oleh Antari untuk melumat hasil karya pendahulunya patut diberikan apresiasi berupa pujian dan kritikan. Keduanya penting, agar riak-riak shastra terus dapat dijaga.
Dua orang ini secara geografis, tinggal di wilayah Kintamani. Yang dalam banyak ulasan, Kintamani dimaknai sebagai permata pikiran. Tapi, mari kita hentikan romantisasi melankolis semacam ini agar otak kita tetap terjaga dan mata tetap bebas dari kantuknya karena terus dijejali bualan yang serupa pujian. Kita mesti bertanya pada diri sendiri, benarkah asal kedaerahan yang selalu kita bangga-banggakan itu dapat menjamin kelangsungan shastra yang katanya lahir dari buddhi? Ataukah kita hanya malu mengakui bahwa kita hanya berlindung pada penjelasan klasik yang melangit itu karena kita sesungguhnya telah dipisahkan oleh jarak yang samar dengan muasal? Jika memang benar Bangli adalah tonggak keberaksaraan di Bali, maka seharusnya Bangli mampu melakukan sesuatu hal yang lebih mulia pada sejarah yang selalu dibangga-banggakan.
Antari dan Mardi adalah moncong baru yang dilahirkan dari aktivitas shastra di Bangli yang senyap. Kenapa senyap? Karena shastra di Bangli selalu berada di pinggir, nihil perhatian. Bisa saya analogikan dengan lontar yang dahulunya beramai-ramai ditinggalkan karena tidak menghasilkan cuan atau dolar dengan gampang. Tapi sekarang banyak orang beramai-ramai meminta perlindungan kepadanya. Berlindung dari konsep agama yang carut marut. Termasuk berlindung dari keragu-raguan dalam hatinya sendiri tentang keleluhuran. Seperti seorang penghianat yang menyesali diri.
Sekilas agak serupa dengan Chairil Anwar yang menurut Sjuman Djaya semasa hidupnya tidak pernah dihargai oleh para kritikus karena dianggap penyair yang merusak nilai sastra dengan bahasa yang lugas tanpa dihias-hias. Chairil baru dipuji dan diakui sebagai pelopor pembaruan seni sastra di Indonesia, justru setelah ia tiada.
Para kritikus yang dimaksud oleh Sjuman Djaya boleh jadi terlambat untuk menyadari kehadiran Chairil Anwar sebagai pelopor pembaruan seni sastra. Tapi Bangli mestinya tidak terlambat menyadari bahwa shastra berperan dalam pembangunannya. Kita bisa membuktikan itu dengan menelusuri prasasti-prasasti yang diwarisi di daerah Bangli sekarang. Jika belum cukup, kita bisa menelusuri jejak sastrawan-sastrawan Bangli. Sebut saja I Nyoman Singin Wikarman dengan karyanya Geguritan I Gusti Wayan Kaprajaya, Kidung Lungsir Petak, dan Kakawin Kebo Tarunantaka. Dari masa penjajahan Belanda, kita menemukan nama I Dewa Poetoe Boekian [I Dewa Gde Agung Anom Putra] yang menulis tentang Kayubihi [Kajoebii Een Oud Balische Bergdesa, 1936], I Jiwa Mungguh Ing Gurit dan Lara Budiman [Mahardika, 2017]. Dari ketiganya hanya satu yang bisa saya telusuri yakni tulisan tentang Kayubihi yang diterjemahkan oleh Grader ke dalam Bahasa Belanda.
Dalam tulisan tersebut, editor mencatatkan sebagai berikut.
[De bewerker heeft getracht in de vertaling het origineele opstel zooveel mogelijk te volgen; dit is niet steeds gelukt, doch gemakshalve wordt van geenerlei wijziging verantwoording afgelegd].
Jelaslah bahwa memang tulisan I Dewa Gde Agung Anom Putra telah diterjemahkan oleh Grader. Penerjemahan ini adalah permintaan dari H.K. Jacobs yang kala itu menjadi seorang kontrolir Klungkung. Awalnya tulisan ini ditulis dalam bahasa Melayu [het Maleisch op schript]. Jika kita melakukan penelusuran yang lebih serius, bukan tidak mungkin kita akan menemukan lagi sejarah yang mengejutkan dari Bangli. Sayangnya, kita harus bersabar menghitung umur, kapan orang-orang dengan kesadaran sejarah dan shastra itu akan lahir?
Kesabaran adalah senjata paling mujarab yang bisa saya temukan untuk melawan kebosanan. Tapi sampai kapan kesabaran itu kuat melawan kebosanan yang terus menggandakan dirinya? Kita sama-sama tahu di luaran sana ada banyak orang yang sumpek dengan keriuhan yang diciptakan tiap musim pemilihan. Karena setelah musim berlalu, kita kembali menjadi manusia yang mandiri dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Lalu apa yang membuat kita di jalan shastra yang senyap dan sunyi ini? Saya pinjam yang dikatakan oleh Umbu Landu Paranggi dalam puisi berjudul Melodia, ‘cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan’. [T]
MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan...
Merintis Jalan Setapak Ini jalan yang kami gambar dengan ujung sepatudi atas peta buta yang terhampar luas di depan.Di kanan kirinya, hutan prasangka mendesiskan anginmeniup ap...
BALI akhir-akhir ini begitu padat, terlebih Denpasar dan Badung. Padat bukan hanya menyadari bahwa Denpasar begitu banyak orang dan kendaraan, tapi juga bangunan-bangunan yang ter...
Fenomena foto hasil edit kecerdasan buatan (AI) dalam mengedit foto semakin marak di media sosial. Tidak sedikit pengguna yang mengunggah potret dirinya seolah sedang bersama deng...
Untuk membangun atau melestarikan alam di tengah tuntutan kesejahteraan masyarakat, maka pembangunan tanpa alih fungsi lahan adalah suatu keniscayaan” SAYA pernah menulis tahun...
UNIVERSITAS PGRI Mahadewa Indonesia (UMPI) Bali bisa disebut sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Bali yang terus ngotot mengembangkan program studi (prodi) Pendidikan Ba...
BALI dalam memori kolektif kita selalu memesona. Hamparan sawah hijau berundak, ombak yang memecah di pantai, dan aroma dupa yang menari di udara. Setiap sudut menawarkan tarian,...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 19 September 2025 Tahukah Anda dalam mitologi Bali jika Bhatara-Bhatari "tedun" (turun) dan "memargi" (berjalan) bentuknya bisa berupa hujan pe...
PAGI hari adalah ruang refleksi yang kerap menyesakkan. Saat saya mengantarkan istri ke kantor, Kanha dan Davka (dua anak saya) ke sekolah, kemudian membawa bahan untuk warung mak...
TAHUN 2025 terasa seperti sebuah babak yang penuh gejolak. Di berbagai belahan dunia, ketegangan politik dan sosial memuncak. Nepal menjadi contoh paling mencolok ketika ketidakpu...