Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum
SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di al...
Shastra selalu menemukan cara untuk mengalirkan dirinya. Tidak peduli apakah aliran itu dengan sengaja dibuatkan celah, atau dibendung dengan ketidakpedulian terhadapnya. Dengan begitu, pada tiap-tiap zaman kita akan selalu menemukan seseorang yang merelakan dirinya untuk menjadi ‘korban’.
Dua puluh lima oktober tahun dua ribu dua puluh, kelak akan dikenang sebagai sejarah bahwa di Bangli, parade pembacaan puisi berbahasa Bali sekaligus diskusi pernah dilakukan. Itu artinya Bangli meneruskan tradisi shastra yang konon bisa dicari silsilahnya sampai ke tahun 804 Shaka. Tentu dengan catatan apakah prasasti Sukawana yang termayur itu bisa dimasukkan sebagai shastra?
Pertanyaan usang ini memang terus-menerus didaur ulang dengan berbagai latar belakang. Kita bisa saja mengutip-ngutip pendapat banyak orang tentang ‘apakah shastra?’, salah satunya Andreas Teeuw untuk memberikan jawaban dengan kadar keilmiahan yang bagus. Tapi kita tidak sedang dalam perdebatan pengertian semacam itu. Kita sedang membicarakan tentang aliran shastra yang mengalir ke tiap-tiap kanal hati manusia.
Bangli Sastra Komala baru lima setengah tahun umurnya. Perayaan dengan diskusi dan ‘pesta’ baca puisi digelar tidak dengan meriah, tapi istimewa. Perayaan itu sekaligus memperingati serratus sepuluh tahun sastra Bali Modern sesuai hasil studi Nyoman Darma Putra [2010]. Antari dan Mardi adalah dua orang menjadi bintang – tanpa mengurangi arti penting kawan-kawan yang datang -- dalam diskusi yang digelar di Umah Bata. Keduanya sama-sama masih mahasiswa, tapi jam terbangnya bisa dibandingkan dengan pengajar-pengajarnya. Keberanian yang dimiliki oleh Antari untuk melumat hasil karya pendahulunya patut diberikan apresiasi berupa pujian dan kritikan. Keduanya penting, agar riak-riak shastra terus dapat dijaga.
Dua orang ini secara geografis, tinggal di wilayah Kintamani. Yang dalam banyak ulasan, Kintamani dimaknai sebagai permata pikiran. Tapi, mari kita hentikan romantisasi melankolis semacam ini agar otak kita tetap terjaga dan mata tetap bebas dari kantuknya karena terus dijejali bualan yang serupa pujian. Kita mesti bertanya pada diri sendiri, benarkah asal kedaerahan yang selalu kita bangga-banggakan itu dapat menjamin kelangsungan shastra yang katanya lahir dari buddhi? Ataukah kita hanya malu mengakui bahwa kita hanya berlindung pada penjelasan klasik yang melangit itu karena kita sesungguhnya telah dipisahkan oleh jarak yang samar dengan muasal? Jika memang benar Bangli adalah tonggak keberaksaraan di Bali, maka seharusnya Bangli mampu melakukan sesuatu hal yang lebih mulia pada sejarah yang selalu dibangga-banggakan.
Antari dan Mardi adalah moncong baru yang dilahirkan dari aktivitas shastra di Bangli yang senyap. Kenapa senyap? Karena shastra di Bangli selalu berada di pinggir, nihil perhatian. Bisa saya analogikan dengan lontar yang dahulunya beramai-ramai ditinggalkan karena tidak menghasilkan cuan atau dolar dengan gampang. Tapi sekarang banyak orang beramai-ramai meminta perlindungan kepadanya. Berlindung dari konsep agama yang carut marut. Termasuk berlindung dari keragu-raguan dalam hatinya sendiri tentang keleluhuran. Seperti seorang penghianat yang menyesali diri.
Sekilas agak serupa dengan Chairil Anwar yang menurut Sjuman Djaya semasa hidupnya tidak pernah dihargai oleh para kritikus karena dianggap penyair yang merusak nilai sastra dengan bahasa yang lugas tanpa dihias-hias. Chairil baru dipuji dan diakui sebagai pelopor pembaruan seni sastra di Indonesia, justru setelah ia tiada.
Para kritikus yang dimaksud oleh Sjuman Djaya boleh jadi terlambat untuk menyadari kehadiran Chairil Anwar sebagai pelopor pembaruan seni sastra. Tapi Bangli mestinya tidak terlambat menyadari bahwa shastra berperan dalam pembangunannya. Kita bisa membuktikan itu dengan menelusuri prasasti-prasasti yang diwarisi di daerah Bangli sekarang. Jika belum cukup, kita bisa menelusuri jejak sastrawan-sastrawan Bangli. Sebut saja I Nyoman Singin Wikarman dengan karyanya Geguritan I Gusti Wayan Kaprajaya, Kidung Lungsir Petak, dan Kakawin Kebo Tarunantaka. Dari masa penjajahan Belanda, kita menemukan nama I Dewa Poetoe Boekian [I Dewa Gde Agung Anom Putra] yang menulis tentang Kayubihi [Kajoebii Een Oud Balische Bergdesa, 1936], I Jiwa Mungguh Ing Gurit dan Lara Budiman [Mahardika, 2017]. Dari ketiganya hanya satu yang bisa saya telusuri yakni tulisan tentang Kayubihi yang diterjemahkan oleh Grader ke dalam Bahasa Belanda.
Dalam tulisan tersebut, editor mencatatkan sebagai berikut.
[De bewerker heeft getracht in de vertaling het origineele opstel zooveel mogelijk te volgen; dit is niet steeds gelukt, doch gemakshalve wordt van geenerlei wijziging verantwoording afgelegd].
Jelaslah bahwa memang tulisan I Dewa Gde Agung Anom Putra telah diterjemahkan oleh Grader. Penerjemahan ini adalah permintaan dari H.K. Jacobs yang kala itu menjadi seorang kontrolir Klungkung. Awalnya tulisan ini ditulis dalam bahasa Melayu [het Maleisch op schript]. Jika kita melakukan penelusuran yang lebih serius, bukan tidak mungkin kita akan menemukan lagi sejarah yang mengejutkan dari Bangli. Sayangnya, kita harus bersabar menghitung umur, kapan orang-orang dengan kesadaran sejarah dan shastra itu akan lahir?
Kesabaran adalah senjata paling mujarab yang bisa saya temukan untuk melawan kebosanan. Tapi sampai kapan kesabaran itu kuat melawan kebosanan yang terus menggandakan dirinya? Kita sama-sama tahu di luaran sana ada banyak orang yang sumpek dengan keriuhan yang diciptakan tiap musim pemilihan. Karena setelah musim berlalu, kita kembali menjadi manusia yang mandiri dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Lalu apa yang membuat kita di jalan shastra yang senyap dan sunyi ini? Saya pinjam yang dikatakan oleh Umbu Landu Paranggi dalam puisi berjudul Melodia, ‘cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan’. [T]
SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di al...
CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesu...
PERNAHKAH kita scrolling timeline instagram dan secara tak sadar menyimpan begitu banyak postingan yang sering kali kita anggap penting? Atau mungkin, kita adalah bagian dari mere...
REFORMASI 1998 menandai pergeseran besar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia menuju desentralisasi kekuasaan. Namun dua dekade kemudian, semangat otonomi daerah itu justru menga...
Di salah satu sudut taman Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Padang, Sumatera Barat, Minggu sore, terasa sedikit berbeda. Di antara riuh anak-anak yang bermain dan ar...
I Made Suniartika, sineas Bali patut gembira karena film pendek yang disutradarainya tayang dalam sebuah festival di Korea Selatan. Film itu berjudul "Purusa: Wedding Sacred", den...
KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS...
KETIKA berbicara tentang keselarasan harmoni kita memijaki Bali yang dikenal sangat erat dengan keterhubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, diramu dalam filosofi hidup; “Tri Hi...
PEREMPUAN muda berbusana hitam itu bersimpuh sambil mengudar tali panjang yang kusut. Bersama musik yang tak nyaman didengar—setidaknya menurut saya—ia kemudian meliukkan tubuhnya...
SETIAP tanggal 10 November, bangsa ini menundukkan kepala mengenang perjuangan para pahlawan. Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan pertempuran Surabaya atau deretan nama di tugu...