Ideologi, Demokrasi & Kesehatan Bangsa
Ideologi suatu negara, tampaknya dapat membingkai kesehatan bangsanya. Perhatikan, angka harapan hidup bangsa Korea Utara yang hanya 65 tahun, sepuluh tahun di bawah punya masyara...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
Ideologi suatu negara, tampaknya dapat membingkai kesehatan bangsanya. Perhatikan, angka harapan hidup bangsa Korea Utara yang hanya 65 tahun, sepuluh tahun di bawah punya masyara...
Semoga tidak terlalu terlambat untuk saya membagi cerita malam minggu. Ini peristiwanya minggu yang lalu, Sabtu 16 Maret 2019. Ini kunjungan kedua kawan-kawan kami dari Teater...
4 Maret 2019 Aku suka perjalanan, baik itu perjalanan dekat ataupun perjalanan jauh. Baik itu beramai-ramai, berdua, atau sendiri. Bagiku itu sama saja. Hari itu, setelah menda...
Cerpen: Satia Guna ~Aku lupa dengan berapa jumlah jariku, aku lupa dengan nasi yang tadi aku makan, aku juga lupa bagaimana manisnya mencium hangat bibirmu. Dimana dokumen yang...
Odalan di Pura Dalem biasanya paling ditunggu-tunggu oleh anak muda, termasuk saya. Di Pura inilah biasanya pertunjukkan Calonarang digelar. Tidak hanya Pura yang di desa saya, Pu...
Dalam dunia percintaan pasti ada rasa bosan terhadap kekasih yang sedang digandeng. Kebosanan itu tidak pernah memilih antara hubungan yang serius dan yang tidak serius, antar...
Dua antropolog asal Prancis, Michel Picard dan Jean Couteau, membahas perihal munculnya identitas Bali semasa era kolonial, berikut transformasinya kini. Acara timbang pandang ter...
PERMISI PADA PUISI Pada hari kau pergi Sebuah sungai meluap naik Menempuh muara kebun kamarku Anggur impian berguguran Buah rindu membusuk Kenangan...
Cerpen: Geg Ary Suharsani . Subuh berlalu, sisakan anyir angin, jantung tak berdetak, ingatan mimpi buruk. keringat dingin mengalir - Kekasihmu terbang,...
Memasuki semester tua, kecemasan-kecemasan itu muncul ketika sudah berhadapan dengan masalah skripsi yang dimulai biasanya dengan mengajukan ide penelitian atau yang mereka sebut...