'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah
Saat kita mendengar suara bariton Harry Belafonte yang hangat menyanyikan “Banana Boat Song” hari ini, ritmenya seolah bergema dari alam bawah sadar. Lagu ini pernah menjadi hit b...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
Saat kita mendengar suara bariton Harry Belafonte yang hangat menyanyikan “Banana Boat Song” hari ini, ritmenya seolah bergema dari alam bawah sadar. Lagu ini pernah menjadi hit b...
Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-t...
LAMPU-lampu Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, mulai menyala ketika senja berganti malam, Sabtu, 24 Januari 2026. Satu per satu penonton memenuhi kursi, sementara di balik p...
ADA ironi yang saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan...
Pameran “Wianta & Legacy” resmi dibuka pada tanggal 23 Januari 2026 di Gallery of Art, The Apurva Kempinski Bali, menghadirkan sebuah peristiwa seni yang melampaui fungsi pame...
Tanggal 9 Januari 2026, merupakan pameren seni pertama yang saya kunjungi di tahun 2026. Pameran berlokasi di Dalam Seniman Coffe Renon. Lokasinya berada di Jl Tukad Musi, Denpasa...
Kapan Terakhir Kali Ayah Berkunjung? Yah, o ayah, dari bulan oktober seperti desembermemilih surga setelah tak hadir menyantap lauk;sejak kapan pintu tertutup ketika sesaji ber...
SIAPA yang tidak kenal dengan Partinah? Pemilik tubuh aduhai dengan paras cantik bertabur wangi dunia. Kalau kalian bukan lelaki hidung belang atau penikmat kupu-kupu malam pasti...
"I'd Rather Go Blind" versi Chicken Shack bukan sekadar cover, ia adalah deklarasi keputusasaan yang membeku. Christine Perfect tidak sedang bernyanyi, ia sedang memilih kegelapan...
Lebih dari sekadar acara sastra, Malam Puisi bertajuk Nuit de la Poésie yang berlangsung pada Jumat malam, 24 Januari 2026, di Toko Buku Partikular, menjelma menjadi ruang perjump...