Poems by Kriapur # The Party Of The Nights
The Party Of The Nights from the land of 24, I went up the stairs –up to the sky, carving up the corpses in the silence of the moon pus river flows....
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
The Party Of The Nights from the land of 24, I went up the stairs –up to the sky, carving up the corpses in the silence of the moon pus river flows....
Kemiskinan adalah suatu kenyataan yang belum dan takkan pernah terhapuskan dari muka bumi ini. Hal itu dikarenakan konsep dan pengertian kemiskinan itu sendiri terus mengalami per...
Seorang Sir Thomas Stamford Raffles, yang pernah memegang kekuasaan singkat di wilayah Indonesia, menulis sebuah buku berjudul The History of Java—atau Sejarah Jawa. Dalam bukunya...
Alam buat perupa Nyoman Sujana Kenyem adalah nyanyian jiwa yang merupakan relung kehidupan manusia. Perupa asal Sayan, Ubud ini kembali menggelar pameran tunggal dengan mengusung...
Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali, di jalan-jalan, baik jalan besar atau jalan kecil, baik di pedesaan atau pun pusat kota, akan nampak anak-anak berkeliling sambi...
Tiada terkira bingungnya Yama, sang dewa penghakim. Tanpa diduga, Bhatara Siwa yang agung menurunkan sekompi Gana Bala untuk menjemput roh Lubdaka untuk diantarkan ke Siwaloka. At...
SEPANJANG hari ini, kawan-kawan saya yang mukim di Jembrana, sibuk membagikan tautan berita tentang pembangunan jalan tol. Konon ruas Gilimanuk-Tabanan akan masuk dalam jaringan T...
“Gong xi fat chai” Pastilah pembaca kaget dengan judul tulisan ini. Dan akan lebih heran lagi jika mengetahui, saya ini ikut merayakan Imlek setiap tahunnya. “Apamu sih yang Ch...
“Sebuah pelayanan, lebih mulia ketimbang seribu doa.” (Mahatma Gandhi) Dalam perjalanan pulang, dari radio di dalam mobil, saya mendengar pemaparan tentang hari raya Ciwarartri...
Mengawali selalu menjadi bagian tersulit dalam melakukan hal apapun. Termasuk dalam menulis catatan ini. Catatan awal tahun, yang harusnya menjadi evaluasi tahun ke belakang dan h...