Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar
OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam serangan pembukaan 28 Februari 2026. Se...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam serangan pembukaan 28 Februari 2026. Se...
MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam sejarah feodal, kita lihat kekuasaan mem...
KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat bahwa ancaman...
DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial. Rapat berlangsung di Ruang Rap...
DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan juri. Sketsa karya Garas Prahmantara...
TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini kerap ditutupi oleh narasi-narasi keberhasilan semu....
Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan yang disebut Bhatara Guru (Sang...
SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah dan penuh kreatifitas, pengarakan ogoh-ogoh...
DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersi...
DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah atau moyang dalam...