Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak s...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak s...
ORANG yang bukan soroh atau marga pande, dalam struktur sosial masyarakat Bali, juga bisa membuat gamelan tradisional Bali. Asalkan memiliki pengetahuan tentang berbagai jenis gam...
RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat fi...
SAMPAH saat ini menjadi persoalan esensial dan sangat mendesak di Bali. Permasalahan sampah tidak saja menjadi permasalahan di perkotaan tetapi juga menjadi permasalahan di perdes...
BANYUWANGI bukan hanya sekadar kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Kabupaten ini sering dikenal sebagai Bumi Santet, sekaligus merupakan tempat dengan banyak cerita m...
BAYANGKANLAH ini: di tengah derasnya arus dunia yang digerakkan oleh kecerdasan buatan dan teknologi mutakhir, Indonesia berdiri sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di...
Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “ODGJ” atau orang dengan gangguan jiwa? Mungkin sebagian langsung membayangkan seseorang yang mengamuk, bicara sendiri di jalanan...
DI tengah hingar-bingar industri musik Indonesia, satu nama hadir tak sekadar membawa lagu, melainkan membawa suara. Bukan suara vokal semata, tetapi suara hati, suara masyarakat,...
SEKAA Gong Wanita Karang Asti Komala, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, sebagai duta Kabupaten Badung, tampil bungah pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita serangkaian P...
LAKI-LAKI tidak bercerita, tapi tiba-tiba pergi mancing ke tengah samudera. Laki-laki tidak bercerita, tapi diam-diam mengendalikan badai, banjir, petir, tsunami… atau tanpa ada y...