Pergeseran Makna Bentuk Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"
PERKEMBANGAN bahasa Bali saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan m...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
PERKEMBANGAN bahasa Bali saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan m...
“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia...
PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulata...
UNTUK pertama kalinya, siswa SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Isaura Henin Serafina, mampu menebus beasiswa dunia melalui Yayasan Bina Budaya. Ia berhasil lolos seleksi superketat yang...
LIA Marisa Tambunan bersama temannya Naomy Dwi menyandarkan motornya di parkiran Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo di kawasan LC VIII, Baktiseraga, Singaraja, Rabu malam, 9 Juli...
SEKAA Gong Wana Giri Asri, Duta Kabupaten Karangasem, menunjukkan identitasnya sebagai sekaa dari ujung timur Bali dalam parade gong kebyar dewasa pada Pesta Kesenian Bali (PKB) k...
Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia memang masih lama, tanggal 9 Desember. Namun korupsi hampir terjadi setiap hari. Kegiatan satu ini memang rajin banget dilakukan. Yang terbaru...
ENAM penari dari Sanggar Seni Sana Sini, Jembrana, sukses mengentak Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Jumat, 12 Juli 2025. Dalam balutan gerak rancak dan iringan gamelan Ri...
“Di pasar loak jejak timpa menimpa,menghapus kau dan aku,mengingat kau mengingat aku.” —Goenawan Mohamad, Di Pasar Loak (1994) “MAU cari HP, Mas?” tanya seorang ibu berw...
PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang c...