Kampusku Sarang Hantu [38]: Sesumbar Tak Percaya Hal Gaib
SETIAP masyarakat memiliki mitos dan cerita mistis. Setiap daerah juga memiliki cerita tentang tempat-tempat yang angker, keramat, gaib, dan mistis. Namun tidak semua orang percay...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
SETIAP masyarakat memiliki mitos dan cerita mistis. Setiap daerah juga memiliki cerita tentang tempat-tempat yang angker, keramat, gaib, dan mistis. Namun tidak semua orang percay...
PENJURIAN Lomba Baca Puisi Pelajar Tingkat Nasional dalam rangka Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana (FNSPJ) IX/2025 untuk semua tingkatan dilaksanakan pada 16-18 Oktober lalu...
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani, dengan percaya diri naik ke atas panggung. Di atas panggung, ia menarik napas sebentar, lalu bersuara. Suaranya lembut, intonasinya tertata....
SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir...
Utsawa Dharma Gita (UDG) XXXII Tahun 2025 resmi ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Gede Arya Sugiartha, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Ra...
WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahad...
“Healing dulu deh!” Kalimat yang rasanya sudah cukup sering terdengar di kalangan anak muda. Entah diucapkan setelah seminggu penuh kerja, setelah nugas yang bikin pusing, atau ke...
SIANG itu, 25 Oktober 2025, langit di atas Gedung Sasana Budaya, Singaraja, di Kabupaten Buleleng, diselimuti mendung. Seolah alam ikut merayakan kedalaman seni Bali Utara. Cua...
SEJUMLAH seniman di Desa Demulih, Bangli, punya tekad kuat menghidupkan seni pertunjukan wayang wong di desa itu. Tekad mereka menular mulai dari anak-anak SD hingga seniman-senim...
Di Balik Dinding Tua Oxford Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana. Di dalamnya, dua tabung logam tegak ber...