Menelisik Budaya dari Mata Lensa Tjokorda Gde Romy Tanaya
PERKEMBANGAN teknologi di era sekarang sangat membantu aktivitas sehari-hari, lebih lagi aktivitas berkesenian. Apalagi arus informasi begitu deras, banyak hal mudah diakse...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
PERKEMBANGAN teknologi di era sekarang sangat membantu aktivitas sehari-hari, lebih lagi aktivitas berkesenian. Apalagi arus informasi begitu deras, banyak hal mudah diakse...
KEBERAGAMAN harus selalu disuarakan. Karena hanya dengan disuarakan terus-menerus, suara-suara yang samar bisa tergantikan, dan kita (sebagai orang Indonesia) bisa saling m...
Pembukaan pameran : Sabtu, 28 Oktober 2017, pukul 18.30 WITA Monolog Dasamuka : Sabtu, 28 Oktober 2017, pukul 20.00 WITA Pameran berlangsung : 29 Oktober – 6 Novembe...
BERBICARA kecantikan kepulauan Nusa Penida tidak ada habis-habisnya. Keindahan alam yang ditawarkan sungguh mempesona. Pulau yang terpisahkan oleh Selat Badung dari Pulau B...
ADA dua stempel umum yang diberikan untuk manusia Bali yang dianggap bodoh atau dianggap mengecewakan: Manusa sing nawang bedag (Manusia tak tahu anak kuda). Manusa si...
Anak-anak naik panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, dengan gembira. Sebagian besar dari mereka membawa kendang (gupekan), beberapa anak lain memegang alat gamelan la...
SOROT mata orang-orang itu, kurasakan, tersedot pada kaos warna biru yang kukenakan. Semula aku menganggapnya semacam apresiasi atas atribut yang tertera pada kaosku. Tapi,...
. SENJA DI DHAMMADESA Bersama Patria Buleleng Aku menaruh hati Pada sayur mayur menebar sapa Buah jambu mengharap senyum Rumput hijau teramat ramah Juga batas timur, memeluk Mem...
Dari Redaksi: Jurusan Seni Rupa FBS Undiksha Singaraja menggelar pameran seni rupa bertajuk PLACE International Student Drawing Exhibition. Tempatnya di Museum Pelabuhan B...
SECARA esensial, kesenian wayang kulit adalah media pencerahan. Melalui cerita epos terkenal Mahabarata dan Ramayana, wayang memberi sesuluh, memberi penerangan jiwa agar t...