Mungkin Saja Penyu Akan Menyelamatkanmu — Cerita dari Pantai Samas
“Lalu apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut?” ___ Suatu hari di perjalanan pulang dari selatan menuju utara, dari pantai Samas, Yogyakarta, menuju Kalasan, perta...
Lontar berikut ini dibuka dengan kalimat sangat menarik: "Iki pangejukan leak" (Ini adalah sarana penangkap Leak). Inilah rajahnya: "Anak istri pangling ring ratu. Asenggama ring asu" (Seorang perempuan bingung dengan ratu. Bersenggama dengan anjing). Sarananya sesaji disebutkan. Beserta dimana rajah diletakkan.


Rajah ini tidak ditemukan dalam buku hasil riset leak Bali yang dikerjakan oleh P. De Kat Angelino, yang hasil risetnya telah terbit dengan berjudul "De leak op Bali", yang diterbitkan Penerbitan Weltevreden : Albrecht, 1921.
Dalam buku rajah yang tulis oleh Hooykaas, yang berjudul: "Drawings of Balinese Sorcery", BRILL, 1980, tidak tercantum rajah ini.
Demikian juga rajah ini tidak dibahas dalam riset dan wawancara soal leak yang dikerjakan oleh Prof Nala yang selintas disajikan dalam buku "Usada Bali" (1992).
Riset lontar leak yang disajikan secara serius memang sangat jarang. Barulah P. De Kat Angelino yang mencoba secara "sistematis" mengkaji lontar leak. Selebihnya riset-riset belakangan tidak semenarik penjelasan dan penyajian "De leak op Bali" (1921). Hooykaas (1980) penyajian berbagai rajah sangat luar biasa, tapi sepertinya buku ini "tidak diniatkan" menjadi buku yang secara khusus sebagai "pedoman kajian teks pangleakan" — kita tidak bisa menggali lebih jauh tentang hal ini mengingat Hooykaas berpulang tidak lama bersenggang usai riset rajah ini dituntaskan.

Prof dokter Nala dalam tulisannya mengakui bahwa:
"Mengenai ajaran leyak ini amat sulit untuk melacaknya. Hampir kebanyakan Balian tidak akan mau menerangkan masalah leyak ini. Mereka menyatakan tidak tahu-menahu mengenai adanya ajaran ngaleyak. Sebab masalah ngaleyak ini di Bali merupakan suatu kejahatan dan dapat dihukum oleh masyarakat. Hukumannya dapat dikucilkan dari masyarakat, diteror, dipukuli bahkan dapat dibunuh. Setiap ada orang yang sakit di sekitar rumah orang yang bisa ngaleyak ini atau pernah disapa atau dipegang olehnya, pasti dituduhkan dialah yang menyebabkan orang itu sakit: Karena risiko ini jarang orang mau mempelajari ilmu leyak atau memberikan penjelasan bahwa dirinya mempunyai lontar pangaleyakan. Sebab kalau ada apa-apa pada orang sekitar, tuduhan pertama akan tertuju kepadanya, walaupun dia tidak berbuat apa-apa. Lebih aman rahasia dipegang teguh sehingga orang lain, bahkan anak istri atau suami tidak tahu bahwa dirinya mempunyai lontar pangaleyakan atau mempelajari ilmu pangaleyakan."
Ida I Dewa Gede Catra (82 tahun) yang sudah aktif menulis aksara Bali di daun lontar sejak 1972 menyebutkan dalam sebuah wawancara dengan media menyebutkan telah menyalin 4.000 cakep lontar dan menulis naskah asli 120 cakep lontar. Dari jumlah itu, tak ada satu pun lontar terkait pengleakan:
"Dalam istilah Bali, Pangleakan disebut Aji Wegig. Saya juga heran, dari ribuan lontar yang disalin, belum pernah ditemukan lontar tata cara belajar ngeleak. Kalau ditemukan, tentu saja sudah saya salin. Sebab, itu juga budaya Bali."
Beberapa keluarga keturunan Balian di Bali Utara punya pengakuan menarik:
"Kakek saya Balian. Sebelum berpulang lontar-lontar pangiwa dan yang terkait Pangleakan dan Aji Wegig dilarung. Dimusnahkan", demikian diakui seorang pewaris koleksi lontar di desa Kayu Putih, Banjar, Buleleng.
Lain lagi cerita seorang cucu Balian dari Nagasepa, Sukasada, Buleleng. Keluarganya tidak mau menyimpan lontar-lontar warisan kakeknya yang dinilai banyak mengandung ajaran Aji Wegig. Lontar-lontar warisan koleksi kakeknya tersebut sebagaian "dilarung" dan sebagiannya "diserahterimakan" ke orang yang dipercaya bisa menjaganya.
Pewaris lontar Balian di desa Ungahan dan Banjarasem memiliki beberapa lontar yang terkait sedikit penjelasan Aji Pangleakan. Namun, seperti umumnya lontar-lontar koleksi keluarga, sifatnya sangat tertutup, tidak mudah mengaksesnya.
Jika ada pihak-pihak yang ingin melakukan riset lontar-lontar leak di Bali tampaknya akan berhadapan dengan kendala yang tidak mudah jika ingin meneliti teks tertulis yang berisi "ajaran pangleakan". Koleksi Gedong Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali bisa dikatakan minim berurusan dengan "ajaran teknis ngeleak" namun berlimpah koleksinya terkait bagaimana menjadi "usada leak" atau penyembuhan yang ditengarai punya gejala yang dipercaya bersumber dari pangleakan. Usada Bebayi dan berbagai Usada Cetik, serta Usada Buduh, menyebutkan dan memberikan instruksi bagaimana berurusan dengan hal ini.
Mungkin lewat keseriusan mengkaji berbagai lontar usada yang tersedia di berbagai perpustakaan yang isinya "penyembuhan berbagai kekuatan tak tampak" bisa menjadi alternatif untuk melakukan "riset leak". [T]
“Lalu apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut?” ___ Suatu hari di perjalanan pulang dari selatan menuju utara, dari pantai Samas, Yogyakarta, menuju Kalasan, perta...
SEPOTONG SENJA DI RUMAH ITU Sepotong senja dari tubuhmu Memanggil-manggil di ambang riuh Aku tertatih-tatih oleh rindu Melarung kenangan Sekian lama aku te...
Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkerja sama dengan Bentara Budaya Bali mengetengahkan Pentas Cantrik Maestro 2019....
Siapa yang tidak kenal Lembar Kerja Siswa atau jamak disingkat LKS? Rasanya setiap siswa yang tengah menjalani pendidikan atau pernah melewati pendidikan formal di Indonesia akan...
Ini pertanyaan sejak lama, sejak lagu Pop Bali atau Lagu Daerah Bali dilombakan lalu diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Kenapa lagu-lagu pop Bali ala PKB yang selalu men...
Kali ini kita akan membahas suatu hal yang ringan-ringan saja. Karenan saking ringannya, mungkin saja tiba-tiba ia menjadi cukup penting. Kok bisa begitu? Ya, karena setiap hal se...
Di kampusku, mahasiswa calon sarjana yang menginjak semester 4 harus mengambil mata kuliah tambahan di hari libur semesternya. Mata kuliah itu namanya KKN. Kepanjangannya Kuliah K...
Inspirasi tulisan ini sebenarnya sudah muncul sejak 2011 lalu, saat saya berencana melanjutkan studi master di UGM. Keterlambatan mengirim lamaran membuat saya harus menunggu pend...
Hari menjelang sore, matahari tepat berada setara dengan mata saat memandang lurus. Saya sedang duduk di pinggir pantai, suara deburan ombak saling kejar-kejaran. Angin sepoi-sepo...
Berbincang tentang desa bali aga, di Bali memang banyak desa yang disebut sebagai kawasan Bali Aga. Di Kabupaten Buleleng ada wilayah bali aga, yakni wilayah SCTPB (Sidatapa...