3 Puisi Santi Dewi || Perempuan Sangkar Kata

Susanti Dewi
by Susanti Dewi — Desember 05, 2020 in Puisi

Tatkala.co

Perempuan Sangkar Kata


Ada yang tak benar-benar sendiri

Dari tubuhku, tubuh kita

Perempuan


Dulu,

Ketika usia menetas

Mimpi terajut di kain langit

Aku menimang-nimang benih teranum

Mengeramnya di kantong waktu


Kelak jadi kunci,

Pengetuk gembok masa depan


Kayuhan waktu pun tiba

Pada subur tanah usia

Gumamku menggigil

Menyambut mimpi di ujung rekah

Dari setengah gelas keringat perjalanan


Tiba-tiba tubuhku,

Dihujam runcing peluru kata-kata

Mimpi harus dilibas

Sebab rahim tak mekar lama

Sebab anak sulit menyapa

Sebab malu dengan tetangga

Jika usia terlalu masak

Mendidih hanya di tungku pendakian


Benarkah waktu kini tak bersangkar?

Sedang aku masih ingin, melampaui terbang burung Kondor


Tak tertawan, atau

Bertengger di ranting pilihan

Mimpi dan ancaman


Elegi Kupu-Kupu


Aku tak tau bagaimana memulai

Sebab dua puluh warna musim telah kulukis

Aroma keruh jalan telah kusesap

Aku menyeduh surut-pasang nasib

Dalam sepi cangkir peninggalan


Ramuan gelombang itu

Basah mengguyur anak tanpa keraman rahim

Ialah aku, seorang takdir

Lahir dari liang angin

Ditimang pertemuan, besar di kusut perjalanan


Dalam nama yang mungkin kau lupa

Pernah ada atau tiada

Aku bertanya setiap purnama

Cahaya bulan pun

Merambat dalam kilau hujan mata

Mulut dada merapal tanya paling purba

: adakah kau ingat kejadian itu?


Dari tubuh silammu

Keluar seorang perempuan

Beretina matahari

Yang sinarnya kini merah-rekah

Ia menanam pucuk-pucuk mimpi

Menembak balon-balon angan

Di angkasa


Dengan tangan sunyi

Sepasang kaki besi

Sendiri ia, terus berdiri


Adakah kau mengingatnya?

Barang sekali saja?


Dongeng purba tentang sisa-sisa kita

Hambar tertelan di telinga

Kau tak ubahnya sebuah tokoh

Hidup dalam kisah para tetua

Mati sejak awal cerita


Benarkah kau ada?


Yang Rebah Dari Cemas


Hidup, adalah terminal siang hari

Di mana keberangkatan dan kepulangan

Seperti teh pada cangkir

Timbul tenggelam bergantian


Waktu yang lama berampas

Mengendap dalam dinding bercat kasih

Di petak-petak tanah, bertubuh rumah

Tempat di mana hidup bermula

Perlindungan paling pulas

Bagi yang pulang, yang rebah dari cemas


Di dalamnya aku

Terkejut oleh letup-letup perasaan yang dingin

Dapur yang beku, tetumbuhan yang mengkristal

Wangi tandus taman, dan

Sudut-sudut yang tak akrab wajahnya


Mereka menatapku asing

Aku mengernyit mengerling

Kami saling meraba-raba rupa

Seperti saudara lama tak berjumpa


Berapa lama pengembaraanku di luar?

Hingga noda susu di bibir kasur jadi sublim

Kamar-kamar kosong jadi arena tarung laba-laba

Dan rapuh tangkai anggrek

di balik rerumputan liar

Menjerit sekuntum air

Bagi lesu kelopak bunganya


Begitu asingkah aku pada mereka?

Sebab aku yang sibuk di kota

Hanyut dalam riuh peta-peta

keberangkatan

Kampung adalah halte persinggahan

Bagi percumbuan datang dan pergi


Di temaram pojok kamar

Setumpuk debu menderu ingin disapu

Begitu banyak keasingan menggerutu

Mereka memelas hangat tangan

Juga pot daun mint

Yang dulu bersaing dengan kelingkingku

Membelalakkan mata dengan anak cucu

Yang berkecambah jadi seribu


Ah, sangat malu rasanya

Rumah sendiri justru tak kukenali


Tiada lagi selain aku

Memanjat syukur pada nasib

Mengeruk perasaan yang lama karam

Bahwa jarak sesungguhnya

Ialah bulir-bulir hujan di tanah Mesir


Di luar sana orang-orang sibuk bersabda

Hujatan menggema bagai pertunjukkan orkestra

Tiada lagi selain aku

Begitu sujud dan kagum

Pada jarak, debu, tempat-tempat sepi, dan

aturan yang berbiak


Sebab tiada lagi selain mereka,

Yang membuatku pulang

Pada kemana seharusnya aku kembali

Tag:
Avatar

Susanti Dewi

Related Posts