Satu Juni & Misteri Waktu
“... aku Mahakala... Aku waktu, aku kehidupan dan kematian...”, demikianlah penggalan wejangan Krishna kepada Arjuna yang masih ragu-ragu di medan perang Kurusetra. Medan pe...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
“... aku Mahakala... Aku waktu, aku kehidupan dan kematian...”, demikianlah penggalan wejangan Krishna kepada Arjuna yang masih ragu-ragu di medan perang Kurusetra. Medan pe...
~Aku ditempatkan di pelosok desa, tapi aku lebih suka menempatkan diriku di gawai dan sosial media~ -- Mahasiswa KKN KKN itu biasa saja. KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang tel...
Muda, bebas, dan penuh ambisi, mungkin demikian saya menggambarkan diri ketika mengenyam pendidikan baik di bangku sarjana dan setelahnya. Seperti umumnya seorang muda lai...
Pengantin generasi muda Hindu yang ideal adalah pengantin yang sudah menempuh pendidikan yang cukup sebagai bekal memasuki tahap berumahtangga. Bekal pendidikan yang cukup diharap...
Puu.I.See adalah satu program di Canasta Creative Space, Jalang Tukad Sanghyang No.2, Panjer, Denpasar, beranggotakan kawan-kawan muda yang gemar sastra, khususnya menulis p...
Tengoklah Kemah Petani atau Farmer Camp di Soewan Garden, Desa Pancasari, Sukasada, Buleleng, Bali, 31 Mei hingga 2 Juni 2019. Itu jika Anda serius ingin tahu betapa serius dan as...
BULELENG Festival 2019 tinggal 3 bulan lagi. Bisik-bisik tetangga, persiapan sudah mulai disiapkan. Mulai dari pementasan tradisional sampai artis yang akan diundang tampil di pan...
Putu Setia, yang kini menyandang nama pendeta Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, baru saja merilis buku terkininya berjudul “Lentera Batukaru”. Novel memoar yang diterbitkan...
Tak terasa, bulan Ramadhan sudah bergerak beberapa hari di tahun 2019 ini. Sebelum kita membahas lebih lanjut lagi, kita ulas dulu bulan Ramadhan itu apa sih? Karena kita hidup de...
Ketika tidak menyisakan ruang untuk perbedaan, tradisi sedang membangun benteng kematiannya sendiri. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Tradisi yang ingin hidup panjang akan meme...