Lontar Pajak Tanah
—Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Desember 2020 Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
—Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Desember 2020 Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti...
I Meong, Kuluk Ajak Bikul mejalan ngalih aling aling ngambin tukad yeh ne gede hujan bales megrudugan, tukade blabar. ngelangi adeng-adeng pang sing hanyut I meong, ng...
Canggu, 5 dan 6 Desember 2020 Plataran Canggu menyelenggarakan Artisan Day-Out dengan tema Revisit the Tradition. Dalam acara ini, Plataran Canggu berkolaborasi dengan...
Saya dilahirkan di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sebuah kampung yang selalu “dicap” sebagai tempat tinggalnya orang-orang yang tidak berpendidikan. Kampung...
Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan. Penyebaran virus yang begitu cepat juga mengubah pola pembelajaran yang mulanya dilaksanakan dengan tatap muka, berganti menjadi...
Perupa I Ketut Sugantika Lekung merefleksikan karya-karyanya di saat kondisi tidak menentu seperti sekarang. Meski wabah melanda bukan berarti Lekung larut dalam situasi itu tetap...
Terbentuk pada tahun 2016, Soulfood yang berdiri kokoh dengan jenis musik Soul/RnB menjadi bagian tubuh yang utuh meliputi didalamnya ada Lyta (vokal), Bam (gitar) dan Palel (drum...
— Catatan Harian Sugi Lanus, Purnama 30 November 2020. Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiark...
“Diego di hati kami, Italia dalam lagu kami” “Maradona, Naples mencintaimu namun Italia adalah rumah kami” Demikianlah tulisan spanduk-spanduk pendukung skuad Italia yang di...
FLUID is a collective exhibition held by Adiwana Bisma, a newly launched resort in Ubud Bali. Adiwana Bisma invited 11 artists and the art community to unfreeze Bali's art d...