Mari Bawa Kembali Agama ke Ruang Privat
“Tuhan bersemayam dalam hati setiap insan, usah lagi berkelana untuk mencarinya.”---- (Jalaludin Rumi) Akankah sabda sederhana sang pujangga ini akan pernah menjadi pegangan hi...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
“Tuhan bersemayam dalam hati setiap insan, usah lagi berkelana untuk mencarinya.”---- (Jalaludin Rumi) Akankah sabda sederhana sang pujangga ini akan pernah menjadi pegangan hi...
Dengan pengawalan dan penjagaan ketat, vaksin Covid-19 tahap pertama untuk Bali tiba di Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada Selasa, 5 Januari 2021, dinihari, sekitar pukul 00.40 Wi...
Rarekual adalah grup lawak dari Buleleng yang biasa naik panggung dengan gaya bebondresan yang bebas tanpa pakem ketat. Nama grup ini sebenarnya Rarekual Topeng, tapi terkenal den...
Pada tanggal 12 Februari 2020, di Desa Guwang Sukawati, Gianyar,,tepatnya di Kulidan Kitchen, suatu tempat yang berada di tengah sawah dengan air selokan di sebelah baratnya...
Ni Kadek Ayu Indah Pertiwi dari SMPN 3 Sukawati ditetapkan sebagai juara 1, Lomba Virtual Membaca Puisi Bahasa Bali Modern untuk siswa SMP se-Gianyar. Sementara juara dua diraih N...
Dulu, ketika belum ditemukan handphone, apalagi WhatsApp, Facebook dan sejenisnya, para remaja, teruna-teruni, atau ABG, menggunakan berbagai cara dan metode tradisional, termasuk...
“Pikiranku menjadi ucapan, Ucapanku menuntun laksana, Laksanaku adalah nasibku, Maka, bukan orang lain, Tuhan pun tak menciptakan takdirku.” Meski sudah dipahami sej...
Musim pandemi membuat waktu terasa panjang dan luang. Kita jadi bisa menikmati hobi yang selama waktu normal biasanya susah kita lakukan. Termasuk waktu membaca tulisan penulis ke...
Henry James, dalam buku Sungai yang Mengalir tulisan Paulo Coelho, mengibaratkan pengalaman sebagai semacam jaring laba-laba raksasa yang tergantung-gantung di alam sadar kita. Ja...
Aku menikmati kesendirian ini, aku berhalusinasi tentang berbagai alasan kesendirianku. Tubuh ini terasa dingin sekali, padahal masih berada di dekatmu, sayang, ruangan ini terasa...