“School from Home” | Menjadi Guru Sekaligus Menjadi Ibu Tunggal
Apa kabar di 2020 lalu? Baik? Ya baik, berusaha untuk tetap baik dan waras. Menjaga imunitas dan mental agar senantiasa segar bugar menghadapi segala macam terjangan dan gempuran...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Apa kabar di 2020 lalu? Baik? Ya baik, berusaha untuk tetap baik dan waras. Menjaga imunitas dan mental agar senantiasa segar bugar menghadapi segala macam terjangan dan gempuran...
Bulan Bahasa Bali akan dibuka secara resmi Gubernur Bali Wayan Koster dari Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (1/2/2021), disiarkan langsung melalui televisi dan me...
Seberapa sering kamu mendengar kalimat "bersyukurlah atas apa yang kamu punya", sambil kamu kebingungan menggambarkan "apa" yang seperti apa dan "apa" yang bagaimana di pikiranmu....
Kumpulan cerpen Nglekadang Meme (Melahirkan Ibu) karya Komang Berata tampil sebagai karya terbaik yang mendapat Hadiah Sastera Rancage 2021 untuk sastra Bali modern. Apakah keungg...
Makian atau umpatan tampaknya bukan merupakan sesuatu yang tabu lagi. Banyak tokoh politik atau pemuka agama yang melanggar kesantunan dalam berbahasa. Figur publik tersebut secar...
BATU DAN POHON Ada batu-batu yang kita lukis sepanjang jalan Batu-batu yang menjadi hujan air mata Batu-batu yang memiliki nama di keningnya Batu-batu setua bumi yang...
Cermin itu memantulkan wajahnya dengan sempurna. Tiada yang kurang, semua nyata. Sebuah wajah yang cantik, agung, lembut tetapi juga berwibawa. Pelan-pelan Sanggrama Wija...
Seribu seratus tujuh tahun lampau Raja Kesari Warmadewa menulis sebuah prasasti yang terhitung sebagai kelompok prasasti tertua di Bali, dengan hari dan tahun 'saptāmyāṁ sita' Pha...
Banyak pekerjaan yang menguras tenaga. Tapi menjadi supir truk, selain menguras tenaga, juga menguras perasaan. Saya sendiri tidak secara langsung merasakan bisa &...
PEMANGKU [pamangku] dalam konstruksi kehidupan masyarakat Bali menjadi posisi yang tidak hanya penting, tapi juga perlu. Di desa adat, kehadiran pemangku menjadi ujung tombak pela...