Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine
Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditu...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditu...
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar Kama Sutra? Secara lantang dan lugas pikiran kita akan tertuju pada sebuah karya yang mengajarkan tentang kiat-kiat berhubungan i...
Secangkir Kopi Pagi Kopiku pagi ini tak sepahit biasa. Kuramu dari bahan sederhana. Setakar kopi dan setakar gula, satu-satunya yang tersisa. Adakah rindu terselip...
Hampir pukul empat dini hari, Putu belum bisa pulas. Jikalau matanya terpejam, rasa geli menyengat di beberapa bagian kulit kepala. Jemarinya terbiasa mengendalikan perasaan dan m...
Keyakinan dan kepercayaan terhadap sebuah tradisi, bukan melulu soal agama, ras atau negara. Di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, terdapat sekitar 250 KK punya tra...
KI HAJAR DEWANTARA (KHD) mendidik diri dengan keras, tekun, lalu membaginya dalam Taman Siswa yang beliau kembangkan. KHD bukan produk pendidikan Belanda kolonial. Bukan...
“Kija to, Dek?” kata seorang ibu kepada anaknya. Artinya, “Mau ke mana, Dek?” “Kal ke WC!” sahut si anak. Maksudnya, “Mau ke WC!” Percakapan semacam ini menjadi hal ya...
Pandemi lagi pandemi lagi, kata yang sering muncul di banyak tulisan. Kata yang sering hadir di setiap obrolan. Entah kata pandemi bagitu mudah ditemukan, apakah itu bagus atau ti...
Mari berandai-andai jika suatu saat sebuah kelompok teater sudah tak lagi memproduksi pertunjukan, masihkah bisa kita sebut sebagai kelompok teater? Jika suatu saat, kelompok teat...
Jauh, jauh sebelum kakek buyutmu lahir di Desa Kebahagiaan Abadi tinggallah dua pria bernama Li dan Sing. Sekarang, dua pria ini adalah teman dekat, tinggal bersama di rumah yang...