Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani
“Ayo, pesan apa saja. Bebas.” “Aku yang bayar.” “Pilih yang enak-enak.” ‘Hei, Mer, jangan bengong!” *** Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu....

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
“Ayo, pesan apa saja. Bebas.” “Aku yang bayar.” “Pilih yang enak-enak.” ‘Hei, Mer, jangan bengong!” *** Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu....
Tim Literasi SMA Kristen Harapan Denpasar meluncurkan buku puisi yang bertajuk “Kupetik Puisi di Langit”. Buku setebal 102 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Ekspres...
-- Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021 Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam. Kenapa? Beberapa saṃ...
“Brutal judulnya,” tulis Wahyu Budi Nugroho, penulis dan sosiolog saat mengomentari kiriman di media sosial saya, berisi tautan portal sastra tatkala.co, Rabu (03/03/2021). Tautan...
Mom Called Killer (MCK) adalah band metal dari kota Denpasar, Bali, yang sudah malang-melintang di skena musik underground. Terbentuk pada 20 oktober 2007. Setelah naik bertualang...
Siapa sebenarnya yang memberi label pada orang lain; sebagai kaum pemalas, kaum “Yes Man”, atau kaum penganut jam karet, misalnya? Saya sepakat dengan ungkapan “Orang Bali jamnya...
Perjalanan Demokrasi Indonesia dari tahun ke tahun nampaknya menurun sebagaimana hasil Indek demokrasi, dan ini terjadi di seluruh dunia, salah satu contoh juga terjadi di Amerik...
Dua Maret 2020, diidentifikasi 2 orang WNI terkonfirmasi virus SARS-Cov-2, penyebab Covid-19, secara istimewa saat itu diumumkan langsung oleh presiden Jokowi dari istana negara....
Judul : Dua Kota Dua IngatanPenulis : Angga WijayaPenerbit : BasabasiTahun terbit : 2019Cetakan ke- : PertamaISBN : 978623...
Cerpen Rudyard KiplingDiterjemahkan dari cerita How The First Letter oleh Juli Sastrawan dari buku Just So Stories. _____ Dahulu kala ada seorang pria Neolitik. Dia bukanlah...