“Kiri” Ayah
SEWAKTU film GIE (2005) aku ingin putar di rumah, ayah angkatku terlihat tidak suka. Soe Hok-Gie dianggapnya sebagai tokoh penyebab kejatuhan Sukarno, yang kala itu adalah preside...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
SEWAKTU film GIE (2005) aku ingin putar di rumah, ayah angkatku terlihat tidak suka. Soe Hok-Gie dianggapnya sebagai tokoh penyebab kejatuhan Sukarno, yang kala itu adalah preside...
YOGYAKARTA bisa disebut sebagai kota terkenal, sama terkenalnya dengan Jakarta sebagai ibukota negara. Hal yang pertama kali terlintas di pikiran kita jika menyebut Yogyakarta ada...
LOMBA “ngambar” atau menggambar berdasarkan satua atau cerita rakyat Bali ini serasa lomba lari. Hanya saja, ketika diberi aba-aba, bukan kakinya yang bergerak cepat, melainkan ta...
PERAYAAN BulanBahasa Bali 2025 di kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) berlangsung semarak. Program Studi Pendidikan Bahasa Bali, Fakultas Bahasa dan Seni, menan...
SETELAH persembahyangan di Pura Goa Gong, Perjalanan Tirtayatra Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) menuju Pura Batu Pageh Banjar Kelod Desa Ungasan. Waktu tempuh dari Pura Goa Gong...
HARI itu saya kembali lagi ke Kharisma Music, sebuah toko kaset sekaligus toko nostalgia di kawasan Pasar Kreneng, Jalan Rijasa Denpasar. Baru datang saja, sudah disambut oleh...
DINAS Kebudayaan Provinsi Bali melalui Penyuluh Bahasa Bali melakukan konservasi dan identifikasi lontar milik masyarakat di Kabupaten Klungkung. Konservasi lontar itu dilaksanaka...
"Empati bukan hanya soal mendengar, tetapi juga merasakan dunia orang lain seolah itu adalah dunia kita sendiri." – Geofakta Razali (Peneliti Psikologi Komunikasi, Tradisi Fenomen...
MADE Mas Meisya Ariasthi, duta dari Kecamatan Buleleng, berhasil meraih juara satu Lomba Nyurat Aksara Bali Tingkat SD yang diadakan Dinas Kebudayaan Buleleng di areal kantor Dina...
SUNGGUH berat bagi siapa pun memilih, menggelari dan menetapkan seseorang menjadi sosok “Pejuang”, karena kata pejuang memberi image sosok manusia terpilih yang memiliki kualitas...