PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU
— Catatan Harian Sugi Lanus, 14 Pebruari 2024 Parwata bersimbah darah. Dadanya ditusuk orang yang ia tidak kenal secara tiba-tiba. Parwata di malam itu memakai kain kamen hi...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
— Catatan Harian Sugi Lanus, 14 Pebruari 2024 Parwata bersimbah darah. Dadanya ditusuk orang yang ia tidak kenal secara tiba-tiba. Parwata di malam itu memakai kain kamen hi...
MESKI sama-sama menggunakan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah sebagai tumpuan, penghitungan tahun hijriah versi Persia berbeda dari penghitungan tahun hijriah d...
SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus mengubur mim...
AYIK Rosita menyandarkan punggungnya di kursi dalam ruangannya. Kakinya diselonjorkan untuk melepaskan pegal dan penat. Seharian ia berada di depan laptop, memperbaiki proposal pe...
DALAM era modern ini, di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan sumber daya alam, konsep keterampilan hijau (green skills) telah menjadi sorotan utama di berbagai sektor....
SETELAH 9 Pura yang menjadi objekperjalanan Tirtayatra Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) pada hari Suci Siwaratri, 27 Januari 2025, perjalanan terakhir sampai di Pura Luhur Uluwat...
ADA 11 cerpen dalam kumpulan buku cerpen berbahasa Bali berjudul “Anak Muani Ane Tusing Kena Iusan Pakibeh Jagat” karya Made Suar Timuhun—pengarang sastra Bali modern yang s...
HARI baik dan luhur muncul lagi pada 12 Februari 2024. Yaitu Hari Suci Pagerwesi yang bertepatan dengan Purnama Kawulu, sasih yang kedelapan, isaka warsa 1946. Pada hari ini me...
BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan...
I Nengah Werden yang tinggal di Banjar Taman, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana sampai saat ini masih menjaga lontar-lontar yang diwarisu para leluhurnya. Hanya saja, lontar ters...