MEDITASI [1] : ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN
— Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Pebruari 2024 Ketika orang Bali memikirkan pikiran, khususnya orang yang “pikiran dan pertimbangannya pendek” atau “cepat marah tanpa...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
— Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Pebruari 2024 Ketika orang Bali memikirkan pikiran, khususnya orang yang “pikiran dan pertimbangannya pendek” atau “cepat marah tanpa...
PRAJURU Adat di Bali mengikuti Wimbakara (Lomba) Sambrama Wacana (sambutan) dalam ajang Bulan Bahasa Bali (BBB) VII tahun 2025. Lomba yang disambut antusias oleh masyarakat Bali i...
BEBERAPA waktu lalu ramai betul film tentang zombie macam Resident Evil, World War Z, dari Korea juga ada Train to Busan, sampai Army of The Dead. Itu belum film zombie lainnya ya...
BAGAI Anak Baru Gede (ABG), ibu-ibu ini begitu gesit dalam mesatua (bercerita menggunakan Bahasa Bali). Mereka tak hanya tampil rapi dan cantik, tetapi menawan pula ketika berceri...
TEATER Jineng dari SMAN 1 Tabanan seperti mata air di lereng pegunungan Batukaru yang tak henti-henti mengucurkan air. Hampir setiap event yang berisi sesolahan drama, atau seni p...
BBB yang saya maksud adalah Bulan Bahasa Bali. Setiap tahun, tepat dari awal hingga akhir bulan Februari dilaksanakan acara tersebut. Acara yang dilaksanakan dari tingkat desa ada...
“Ayah, kakak mau sekolah SMA di sini, di kota ini, di sekolah yang sama dengan ayah dulu!“ Begitu tiba-tiba sulung saya mengajukan permintaan kepada saya, bapaknya. Hari itu ka...
MENGAJAR kelas Psikologi Komunikasi bagi Wisnawan Wijaya sangat mengasyikkan. Selain materi kuliah yang memang kekinian dengan kasus-kasus yang terjadi, mahasiswa peserta mata kul...
KALAU saja sempat menyaksikan Wimbakara (Lomba) Ngwacén (membaca) Lontar dalam ajang Bulan Bahasa Bali (BBB) VII, maka tak akan ada keraguan lagi dengan keseriusan anak-anak muda...
SEBAGAI mahasiswa semester enam Jurusan Ekonomi di Undiksha Singaraja, Zainul Qiram sepertinya enggan untuk nongkrong biasa, sembari rokokan, dan isinya hanya ngobrol-ngobrol tanp...