Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak s...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak s...
ORANG yang bukan soroh atau marga pande, dalam struktur sosial masyarakat Bali, juga bisa membuat gamelan tradisional Bali. Asalkan memiliki pengetahuan tentang berbagai jenis gam...
RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat fi...
SAMPAH saat ini menjadi persoalan esensial dan sangat mendesak di Bali. Permasalahan sampah tidak saja menjadi permasalahan di perkotaan tetapi juga menjadi permasalahan di perdes...
BANYUWANGI bukan hanya sekadar kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Kabupaten ini sering dikenal sebagai Bumi Santet, sekaligus merupakan tempat dengan banyak cerita m...
BAYANGKANLAH ini: di tengah derasnya arus dunia yang digerakkan oleh kecerdasan buatan dan teknologi mutakhir, Indonesia berdiri sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di...
Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “ODGJ” atau orang dengan gangguan jiwa? Mungkin sebagian langsung membayangkan seseorang yang mengamuk, bicara sendiri di jalanan...
DI tengah hingar-bingar industri musik Indonesia, satu nama hadir tak sekadar membawa lagu, melainkan membawa suara. Bukan suara vokal semata, tetapi suara hati, suara masyarakat,...
SEKAA Gong Wanita Karang Asti Komala, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, sebagai duta Kabupaten Badung, tampil bungah pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita serangkaian P...
LAKI-LAKI tidak bercerita, tapi tiba-tiba pergi mancing ke tengah samudera. Laki-laki tidak bercerita, tapi diam-diam mengendalikan badai, banjir, petir, tsunami… atau tanpa ada y...