Pergeseran Makna Bentuk Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"
PERKEMBANGAN bahasa Bali saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan m...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
PERKEMBANGAN bahasa Bali saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan m...
“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia...
PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulata...
UNTUK pertama kalinya, siswa SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Isaura Henin Serafina, mampu menebus beasiswa dunia melalui Yayasan Bina Budaya. Ia berhasil lolos seleksi superketat yang...
LIA Marisa Tambunan bersama temannya Naomy Dwi menyandarkan motornya di parkiran Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo di kawasan LC VIII, Baktiseraga, Singaraja, Rabu malam, 9 Juli...
SEKAA Gong Wana Giri Asri, Duta Kabupaten Karangasem, menunjukkan identitasnya sebagai sekaa dari ujung timur Bali dalam parade gong kebyar dewasa pada Pesta Kesenian Bali (PKB) k...
Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia memang masih lama, tanggal 9 Desember. Namun korupsi hampir terjadi setiap hari. Kegiatan satu ini memang rajin banget dilakukan. Yang terbaru...
ENAM penari dari Sanggar Seni Sana Sini, Jembrana, sukses mengentak Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Jumat, 12 Juli 2025. Dalam balutan gerak rancak dan iringan gamelan Ri...
“Di pasar loak jejak timpa menimpa,menghapus kau dan aku,mengingat kau mengingat aku.” —Goenawan Mohamad, Di Pasar Loak (1994) “MAU cari HP, Mas?” tanya seorang ibu berw...
PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang c...