Ibuku, Darahku, Tanah Airku: Senandung Duka Lagu “Kebaya Merah”
LAGU "Kebaya Merah" yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jab...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
LAGU "Kebaya Merah" yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jab...
“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” ujar perempuan kelahiran 1991 itu sesaat setelah ia selesai merangkai alat tenunnya yang tua. “Warisan ib...
SORE menjelang petang. Orang-orang lokal-mancanegara betul-betul tumpah di Tugu Singa Ambararaja, di titik nol Kota Singaraja, Buleleng, Bali. Bejubel manusia di sana. Jalanan jad...
BERITA kisah atau disebut juga feature merupakan salah satu jenis berita yang ditulis oleh seorang jurnalis dengan sedikit lebih longgar dibandingkan berita langsung (straight/har...
Di Bali, sikap kritis jarang dibalas dengan argumen. Lebih sering dibalas dengan tawa, sindiran, atau lelucon yang membuat Anda merasa konyol karena sudah berusaha serius. Orang B...
Pelabuhan Padangbai di Karangasem, Bali, masih sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WITA. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus nasi jinggo, di salah satu warung kopi ya...
KORUPSI merupakan salah satu fenomena sosial paling merusak di banyak negara, termasuk Indonesia. Korupsi tidak hanya menghancurkan sistem birokrasi dan kepercayaan publik, tetapi...
AJANG Buleleng Festival (Bulfest) belum dimulai, namun di panggung utama, di depan Tugu Singa Ambara Raja seakan-akan sudah terjadi pertunjukan seni yang layak ditonton dengan cer...
ENAM seniman pengabdi seni dari masing-masing desa adat di Kecamatan Kuta menerima penghargaan Abdi Budaya Nugraha bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI, Minggu...
Negeri ini memberikan banyak pengalaman berharga soal pelayanan. Indonesia “katanya” dikenal begitu ramah dalam kehidupan sehari-hari, namun bagi sebagian masyarakat Indonesia sen...