Alam Bukanlah Bencana, Melainkan Cermin Kesadaran Kita
KITA sering menyebut banjir, tanah longsor, atau kekeringan sebagai bencana alam. Namun, semakin saya renungkan, istilah itu tidak sepenuhnya tepat. Apakah benar alam yang membawa...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
KITA sering menyebut banjir, tanah longsor, atau kekeringan sebagai bencana alam. Namun, semakin saya renungkan, istilah itu tidak sepenuhnya tepat. Apakah benar alam yang membawa...
BERKENDARA di Bali, khususnya di Kota Denpasar dan sebagian wilayah Badung, mesti memiliki hati yang lapang. Bagaimana tidak, saya yang tiap hari menyusuri jalanan kota dengan sep...
ADA sembilan atlet taekwondo Buleleng yang dikirim untuk Porprov Bali 2025, Minggu, 7 September. Hasil dari sembilan atlet itu, dua medali emas, lima perak, dan satu perunggu....
PUTU Luhur Apngal Kusuma, adalah atlet catur Master Nasional asal Buleleng. Di sela kesibukannya kuliah di Gunadarma, Jakarta, Putu Luhur terbang ke Buleleng untuk Pekan Olahraga...
“Taluh goreng ade hasil” (mending goreng telur, hasilnya jelas) Mungkin ini adalah ungkapan yang sering terlontar dari warga yang enggan untuk menyuarakan pendapatnya terkait i...
JABATAN dekan fakultas di perguruan tinggi dianggap sangat strategis. Secara struktural dekan membawahi ketua jurusan dan koordinator program studi. Dekan mengemban visi dan misi...
DALAM berbagai gerakan lingkungan di dunia, sering kita dengar slogan “Save the Earth” atau “Save Mother Earth”. Kalimat ini terlihat heroik dan penuh semangat. Namun Guruji Anand...
BARU dua hari diguyur hujan deras, sebagian wilayah Bali porak-poranda, khususnya Denpasar. Ini bukan kali pertama, beberapa tahun ke belakang sudah pernah terjadi. Namun kali ini...
MASYARAKAT Hindu Bali dulu, konon beragama Tirta. Tirta adalah sebutan untuk air yang telah disucikan. Masyarakat Hindu Bali memuja dan menghormati lima unsur alam (tanah, air, ap...
NAMA I Gede Wahyu Surya Wiguna (23) saat ini cukup diperbincangkan di kalangan lifter angkat berat Bali, nasional, bahkan internasional. Beberapa bulan lalu, ia baru saja memenang...