Peraturan Daerah Tentang Perjanjian Nominee
MENJELANG Pilkada Bali 2024, muncul materi debat antar pasangan calon Gubernur Bali, di mana ada usulan pembuatan peraturan daerah nominee agreement tentang penguasaaan tanah oleh...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
MENJELANG Pilkada Bali 2024, muncul materi debat antar pasangan calon Gubernur Bali, di mana ada usulan pembuatan peraturan daerah nominee agreement tentang penguasaaan tanah oleh...
Sastra dan religiusitas. Dua kata yang pada pandangan pertama seolah-olah berbeda jalur. Sastra dianggap wilayah imajinasi, estetika, dan ekspresi batin, sementara religiusitas se...
INI pasangan atlet dance sport dari Buleleng yang benar-benar kompak. Pasangan itu, Dewa Made Dimas Satria Wicaksana dan Komang Gendys Tari Prameswari. Atas kekompakan mereka y...
Mrs Tan, klien konsultasi gizi sore itu, berumur 70 tahun dengan badan yang sedikit bungkuk. Badan bungkuk itu -dalam bahasa ilmiah disebut kifosis yang bisa disebabkan oleh prose...
Bali merupakan entitas hidup. Budaya Bali berdenyut di persimpangan dua dunia: warisan leluhur dan gelombang modernitas digital. Di satu sisi, ada aroma dupa yang mengepul di pura...
FESTIVAL Film Indonesia (FFI) memang selalu hadir dengan gegap gempita. Karpet merah, gaun mewah, selebrasi kemenangan, hingga gemerlap kamera seakan menjadi simbol kemegahan indu...
Perahu negeriku perahu bangsaku, menyusuri gelombang. Semangat rakyatku kibar benderaku menyeruak lautan, langit membentang cakrawala di depan melambaikan tantangan. Di atas tanah...
KADEK Berlian Adi Pranatha, atau biasa disapa Berlian itu, ukir medali emas usai empat kali bertanding versus jagoan asal Jembrana, Denpasar, Gianyar dan Bangli, pada ajang Pekan...
BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi o...
Keberanian memilih Ketika Belanda menawarkan kenyamanan menjadi aparatur negara kolonial, usai menamatkan kuliahnya, Bung Karno dengan tegas menolak. Baginya, jabatan yang lah...