Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau
BIASANYA aku bukan orang yang mudah terbujuk. Tapi kali ini kuakui, aku terbujuk dengan mudah. Sekembalinya kawan-kawan ke perkemahan Paltuding Gunung Ijen, tiba-tiba Iwan mengelu...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
BIASANYA aku bukan orang yang mudah terbujuk. Tapi kali ini kuakui, aku terbujuk dengan mudah. Sekembalinya kawan-kawan ke perkemahan Paltuding Gunung Ijen, tiba-tiba Iwan mengelu...
Catatan ini ditulis ketika Putu Wijaya mementaskan monolog Burung Merak di Open Stage Lovina, Buleleng, Bali, Rabu 25 November 2009, malam. Monolog itu dipentaskan untuk memperinga...
Cerpen: Putri Handayani MALAM. Purnama. Hujan lebat. Aku meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhku tertelan habis dari ujung kaki hingga kepala. Setiap malam, saat masih terjaga, a...
KWATRIN KEGEMBIRAAN 1 Sebelum ucapan selamat petang terdengar Aku tahu angin lebih dulu mengucapkannya Dari luar jendela. Kau cukup tersenyum saja Biarkan ruap kopi menyimpan d...
KEGIATAN identifikasi cakepan lontar di rumah Kelian Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna, di wilayah Delod Peken, Kelurahan Kendran, tepatnya di Jalan Gajah Mada Singaraja, Kam...
BAGIKU, perjalanan menuju gunung adalah salah satu mood swing terbaik dalam hidup. Perlahan, kau bisa merasakan udara panas berganti jadi dingin. Lalu, bising berubah jadi hening....
Buku : The Seven Good Year Penulis : Etgar Keret Penerjemah : Ade Kumalasari Hal : 198 hlm Penerbit : Bentang Cetakan 1 : Juni 2016 ISBN : 978-602-291-200-2 MEMOAR-MEMOAR yan...
Mereka yang tak berumah, tak akan membangun lagi Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri, akan jaga, membaca, menulis surat yang panjang, dan akan melangkah hilir mudik di jalana...
SUATU siang, seorang anak datang dari sekolah membawa hasil tes dengan nilai nol. Ketika sampai di rumah, ia dengan penuh rasa ketakutan menyerahkan hasil tes kepada orang tuanya....
SESUATU yang alpha kita ketahui tentang seseorang yang rasa kita kenal dekat, pastilah mengejutkan nian. Tak kecuali dalam dunia puisi, seperti halnya puisi Umbu Landu Paranggi yan...