Hidayat# Satu Surat dan 5 Puisi untuk D
. SATU SURAT DAN 5 PUISI UNTUK D Bagian I : Surat (Ia mulai membacakan surat yang telah selesai ia tulis) Ketika kau membaca surat ini, berarti aku telah mati. Aku dibunuh ilusi....

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
. SATU SURAT DAN 5 PUISI UNTUK D Bagian I : Surat (Ia mulai membacakan surat yang telah selesai ia tulis) Ketika kau membaca surat ini, berarti aku telah mati. Aku dibunuh ilusi....
“Ratu Sedahan taru, selai dina mangkin jagi pacang rauh rerainan Galungan, mangde preside I Ratu mabuah ngeed-ngeed.” “Wahai Sang Pengusa pohon (Sangkara) 25 hari lagi har...
MALAM ini saya punya dongeng untuk anak saya, tentang wajah Tuhan dalam 11 butir kelapa. [Spontan anak saya ambil kameranya dan merekam saya: “Guys.. kalian tak paham ini...
JANGAN punggungi laut, begitu petikan yang dilontarkan Presiden Joko Widodo. Jika diperhatikan masyarakat Nusa Penida memiliki tradisi pelestarian laut yang dilaksanakan sa...
Kesaksian Prof. Anwari Dilmy Prof. Anwari Dilmy adalah ahli botani ternama, lulusan Sekolah Pertanian Buitenzorg (sekarang Bogor), sebulan setelah letusan Gunung Agung ter...
“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya.” — Joseph Bordsky MENGGELIKAN, bikin ketawa, dan kadang sebel juga melihat t...
PKI bangkit lagi. Desas-desus ini menjadi obrolan sensitif di kalangan masyarakat Indonesia. PKI konon bangkit lagi, sehingga menimbulkan efek phobia pada masyarakat Indone...
SERANGKAIAN pameran Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah, diadakan dialog atau Timbang Pandang merujuk tematik Masa Depan Seni Lukis Kaca di Bali, menghadirkan narasumber p...
KONTRIBUSI umat Hindu dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia sejak zaman penjajahan hingga pascakemerdekaan sekurang-kurangnya mencatat tiga hal. Pertama, komitmen pengorb...
. TELUK PADANG BAI di bagian yang paling senyap dari pulau yang tidak pernah gelap sarkopagus tua itu terdampar menjadikan aku tawan karang membawa aku ke peluk paling terkutuk k...