Melinting Kertas Bekas jadi Cindera Mata
SEKELOMPOK anak-anak SD duduk melingkar di kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Rabu (18/10/2017). Mereka asyik melipat kertas koran bekas. Dua orang dewasa dari Sangg...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
SEKELOMPOK anak-anak SD duduk melingkar di kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Rabu (18/10/2017). Mereka asyik melipat kertas koran bekas. Dua orang dewasa dari Sangg...
SUATU pagi kita dipertemukan di suatu tempat yang penuh dengan bunga-bunga, kumbang yang bercumbu dengan madu, rerumputan yang bergoyang di atas kaki-kaki telanjang, udara...
12 Oktober 2002, atau tepat 15 tahun silam, aksi teror melanda Bali. Tiga lokasi di Bali dibom saat hiruk pikuk pada Sabtu malam itu. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's...
DI sebelah tenggara Pulau Bali ada tiga pulau yang molek. Kita boleh dan layak menyebutnya sebagai telur-telur emas. Tiga pulau itu menyimpan kemegahan potensi. Ibarat gadi...
HAMPIR satu bulan sudah Gunung Agung di Karangasem Bali, menarik perhatian seluruh masyarakat dunia. Bagaimana tidak menarik perhatian, tertidur selama lima puluh empat tah...
Pameran “Fertil, Barakat, Ayom-Budaya Gendongan Bayi” 20- 29 Oktober 2017, 09.00- 16.00 WIB Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional Indonesia Jl. Medan Merde...
BERBICARA alam adalah sesuatu hal yang seksi. Ia selalu dieksplorasi keindahannya, baik dalam ranah berkesenian maupun raha lain. Dalam seni rupa, alam adalah tema yang tia...
ENTAH apa yang terjadi pada dunia sepak bola tanah air. Berita kekalahan sebuah tim, berita kemenangan, berita tentang komentator dengan bahasa aneh, dan berita lain yang d...
SUASANA magis memancar dari Pentas Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya II, Jumat malam, 13 Oktober 2017. Seolah menggenapi kesan menyeramkan dari mitos, bila tang...
Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. —Ali bin Abi Thalib AKU mengawali tulisan ini dengan kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib. Ini bukan tanpa alasan,...