Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
I Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada ta...
Hujan, ia seperti sebuah perjalanan pulang. Perjalanan pulang selalu ditunggu-tunggu dan menyertakan rasa rindu. Rasa rindu senantiasa meminta sebuah pertemuan dan pertemuan adalah tempat bagi segala rasa untuk bermuara. Pertemuan dimuliakan karena dapat menciptakan kegembiraan, menghapus kesedihan, meredakan keangkuhan pun membina belas kasihan.
Demikianlah hujan, atom oksigen (O2) dan hidrogen (H) yang vital dan cemerlang di angkasa harus berangkulan untuk menjadi air (H2O) yang rendah hati turun ke bumi bersua ibu pertiwi, membagikan kegembiraan dan belas kasihannya, menghapus kesedihan bumi lalu bermuara di samudera luas. Samudera luas adalah realita keberagaman dan keberagaman hanya dapat terwujud dari sikap kerendahan hati.
Maka samuderalah yang telah menyatukan bumi kita yang bulat ini. Pantaslah hujan selalu rindu untuk pulang ke samudera meski sering kali mesti melewati perjalanan panjang melalui hutan dan pegunungan yang asri, desa yang damai, serta perkotaan yang pengap. Sebuah siklus yang senantiasa hadir dan selalu memberi pelajaran penting soal hakikat kehidupan.
Air, mungkin merupakan elemen alam dengan struktur kimia yang sangat sederhana juga penampilan yang terlampau bersahaja. Pada dasarnya, ia bening tak berwarna, tak berasa dan mengalir ke mana saja ke tempat yang lebih rendah. Antitesa sifat api yang senantiasa menggapai-gapai ketinggian semampu ia lakukan. Air dalam kesahajaannya, adalah sumber kehidupan.
Meski ia tak meriah berwarna-warni, tak menawarkan berbagai pilihan topping atau rasa. Demikianlah, alam berkali-kali mengingatkan, hidup ini ditentukan oleh hal-hal esensial yang sangat sederhana dan mudah. Ingatlah kemudian, saat masa kanak-kanak dulu kita pernah dengan tubuh telanjang berhamburan bersama sahabat-sahabat di kampung berloncatan ke luar rumah saat hujan turun.
Adakah permainan yang lebih bersahaja daripada itu? Sebagian lalu kena flu namun rasanya sebagian besar mendapat antibodi yang telah dititipkan alam. Jika saat ini Covid-19 membunuh lebih banyak penduduk Eropa dan Amerika Utara yang kaya dan modern, mungkin saja karena mereka tak pernah bermain hujan-hujanan saat kanak-kanak.
Hujan akan menjadi indah dan sempurna saat bulir-bulir airnya yang bening menimpa dedaunan, pepohonan dan rimba belantara. Perhatikanlah, detil saat tetesan air hujan jatuh tanpa ragu-ragu di atas sehelai daun hijau, kita akan segera sepakat, itulah keagungan lukisan ilahi tak ternilai. Tetes demi tetes menyapa dedaunan yang tak jemu bergoyang menyambutnya lalu membiarkannya menyusuri batang-batangnya menuju tanah, beristirahat sesaat dalam kerumitan akar-karnya. Akar-akar yang haus tak menyia-nyiakan kesempatan mereguk curahan berkat dari langit yang kelak akan dimasak menjadi zat tepung yang manis, sumber nutrisi untuk segenap mahluk fauna dan insani.
Hujan pun mengingatkan kita, pepohonan dalam diam telah bekerja tanpa lelah merakit puzzle kehidupan menjadi sempurna. Satu realita lain, kesederhanaan yang esensial untuk kehidupan. Itulah maka, merobek dedaunan, menghempaskan pepohonan sama saja menyia-nyiakan hujan, membuang-buang bakal zat tepung yang manis.
Hujan telah menginspirasi sedemikian banyak sisi keindahan dan romantisme manusia. Ia hadir dalam gubahan lagu-lagu, lukisan, pada banyak puisi bahkan film. Tak masalah apakan hujan telah mewakili persaan insani yang suram penuh duka atau sebaliknya ia dihadirkan untuk melukiskan keindahan yang memikat hati. Manusia memang piawai membuat apa saja sesuai dengan keinginannya. Hingga sering membawanya merasa selalu benar tak pernah keliru. Ini sungguh bukan perkara sederhana, sebaliknya ini jelas persoalan sangat rumit dan berbahaya.
Jika telah terjadi banjir atau longsor di sana sini, tentulah itu bukan kemauan hujan. Ia selalu kembali pada tugasnya sebagai penjaga kehidupan. Maka segala bencana yang terjadi adalah tak bukan karena ego manusia yang selalu merasa benar tak pernah keliru itu sendiri. Kita, akan selalu menunggu saat untuk pulang, meluruhkan ego dan keangkuhan kita. Seperti hujan yang pulang ke samudera, dan jika beruntung, sebelum usai curahannya, sesekali menjumpai kekasihnya, sinar surya yang hangat menjangkau dari cakrawala untuk menjalin seuntai pelangi.
I Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada ta...
NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di Gramedia. Mungkin sebagai jalan yang kuat ketika sa...
SANGAT menarik membahas konsep pengobatan dari era ke era. Apalagi saat konsep pengobatan yang telah berkembang di masa lampau, masih eksis keberadaannya di masa kini. Tentu saja...
BEBERAPA waktu lalu saya membaca berita kecil, di mana Pemda di daerah menertibkan beberapa orang yang berkeliaran diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), karena dirasa menggang...
EMAS ditempatkan di mana saja, tetaplah emas, di lumpur sekali pun. Itulah kata kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Nyoman Yuliana Citra, S.Pd., M.Pd., guru SMA Neger...
ERA kemudahan digital saat ini, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan bahkan kolom komentar Live (siaran langsung), perempuan kerap menjadi sasaran komentar seksual yang ber...
GUBERNUR Bali Wayan Koster mengungkapkan rasa senangnya ketika melihat karya seni yang ditampilkan selama Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2025 ini sebagian besar berupa karya-kara...
—Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Juli 2024 APAKAH orang Bali dan Nusantara (era Jawa Kuno) punya pedoman dalam pergaulan atau berteman? Pedoman pergaulan atau pertemanan termu...
KITA hendaknya tahu bahwa fetish para seniman di era kontemporer adalah gejolak untuk mendobrak sesuatu, serta menghadirkan satu sensasi sebagai pemantik awal sebuah diskusi. Kema...
“Kreativitas memerlukan ruang dan ruang itu bisa berupa komunitas yang saling menghidupi.” -WS Rendra HARI itu, Jumat, 18 Juli 2025, sastra menemukan rumah barunya di Jakarta B...