Menjadi Pahlawan untuk Diri Sendiri
SETIAP tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini biasanya diisi dengan upacara, tayangan...
Hujan, ia seperti sebuah perjalanan pulang. Perjalanan pulang selalu ditunggu-tunggu dan menyertakan rasa rindu. Rasa rindu senantiasa meminta sebuah pertemuan dan pertemuan adalah tempat bagi segala rasa untuk bermuara. Pertemuan dimuliakan karena dapat menciptakan kegembiraan, menghapus kesedihan, meredakan keangkuhan pun membina belas kasihan.
Demikianlah hujan, atom oksigen (O2) dan hidrogen (H) yang vital dan cemerlang di angkasa harus berangkulan untuk menjadi air (H2O) yang rendah hati turun ke bumi bersua ibu pertiwi, membagikan kegembiraan dan belas kasihannya, menghapus kesedihan bumi lalu bermuara di samudera luas. Samudera luas adalah realita keberagaman dan keberagaman hanya dapat terwujud dari sikap kerendahan hati.
Maka samuderalah yang telah menyatukan bumi kita yang bulat ini. Pantaslah hujan selalu rindu untuk pulang ke samudera meski sering kali mesti melewati perjalanan panjang melalui hutan dan pegunungan yang asri, desa yang damai, serta perkotaan yang pengap. Sebuah siklus yang senantiasa hadir dan selalu memberi pelajaran penting soal hakikat kehidupan.
Air, mungkin merupakan elemen alam dengan struktur kimia yang sangat sederhana juga penampilan yang terlampau bersahaja. Pada dasarnya, ia bening tak berwarna, tak berasa dan mengalir ke mana saja ke tempat yang lebih rendah. Antitesa sifat api yang senantiasa menggapai-gapai ketinggian semampu ia lakukan. Air dalam kesahajaannya, adalah sumber kehidupan.
Meski ia tak meriah berwarna-warni, tak menawarkan berbagai pilihan topping atau rasa. Demikianlah, alam berkali-kali mengingatkan, hidup ini ditentukan oleh hal-hal esensial yang sangat sederhana dan mudah. Ingatlah kemudian, saat masa kanak-kanak dulu kita pernah dengan tubuh telanjang berhamburan bersama sahabat-sahabat di kampung berloncatan ke luar rumah saat hujan turun.
Adakah permainan yang lebih bersahaja daripada itu? Sebagian lalu kena flu namun rasanya sebagian besar mendapat antibodi yang telah dititipkan alam. Jika saat ini Covid-19 membunuh lebih banyak penduduk Eropa dan Amerika Utara yang kaya dan modern, mungkin saja karena mereka tak pernah bermain hujan-hujanan saat kanak-kanak.
Hujan akan menjadi indah dan sempurna saat bulir-bulir airnya yang bening menimpa dedaunan, pepohonan dan rimba belantara. Perhatikanlah, detil saat tetesan air hujan jatuh tanpa ragu-ragu di atas sehelai daun hijau, kita akan segera sepakat, itulah keagungan lukisan ilahi tak ternilai. Tetes demi tetes menyapa dedaunan yang tak jemu bergoyang menyambutnya lalu membiarkannya menyusuri batang-batangnya menuju tanah, beristirahat sesaat dalam kerumitan akar-karnya. Akar-akar yang haus tak menyia-nyiakan kesempatan mereguk curahan berkat dari langit yang kelak akan dimasak menjadi zat tepung yang manis, sumber nutrisi untuk segenap mahluk fauna dan insani.
Hujan pun mengingatkan kita, pepohonan dalam diam telah bekerja tanpa lelah merakit puzzle kehidupan menjadi sempurna. Satu realita lain, kesederhanaan yang esensial untuk kehidupan. Itulah maka, merobek dedaunan, menghempaskan pepohonan sama saja menyia-nyiakan hujan, membuang-buang bakal zat tepung yang manis.
Hujan telah menginspirasi sedemikian banyak sisi keindahan dan romantisme manusia. Ia hadir dalam gubahan lagu-lagu, lukisan, pada banyak puisi bahkan film. Tak masalah apakan hujan telah mewakili persaan insani yang suram penuh duka atau sebaliknya ia dihadirkan untuk melukiskan keindahan yang memikat hati. Manusia memang piawai membuat apa saja sesuai dengan keinginannya. Hingga sering membawanya merasa selalu benar tak pernah keliru. Ini sungguh bukan perkara sederhana, sebaliknya ini jelas persoalan sangat rumit dan berbahaya.
Jika telah terjadi banjir atau longsor di sana sini, tentulah itu bukan kemauan hujan. Ia selalu kembali pada tugasnya sebagai penjaga kehidupan. Maka segala bencana yang terjadi adalah tak bukan karena ego manusia yang selalu merasa benar tak pernah keliru itu sendiri. Kita, akan selalu menunggu saat untuk pulang, meluruhkan ego dan keangkuhan kita. Seperti hujan yang pulang ke samudera, dan jika beruntung, sebelum usai curahannya, sesekali menjumpai kekasihnya, sinar surya yang hangat menjangkau dari cakrawala untuk menjalin seuntai pelangi.
SETIAP tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini biasanya diisi dengan upacara, tayangan...
RICHARD Nixon mungkin akan tetap berkuasa sebagai Presiden Amerika Serikat andaikata The Washington Post kala itu, tidak melaporkan keterlibatannya dalam skandal Watergate yang te...
DIGITALISASI mendorong lebih luas transformasi sastra Jawa Kuno ke ruang kontemporer, termasuk di dunia media. Hal ini tidak terlepas dari kesusastraan Jawa Kuno yang menjadi kunc...
SENJA baru saja turun di Ubud, udara lembab sehabis hujan hari itu membawa hawa yang berbeda. Saat hari perlahan menuju gelap, penonton mulai memenuhi halaman The Blanco Renaissan...
SETIAP kali November datang, bangsa ini kembali mengenang mereka yang berkorban demi satu kata: merdeka. Namun, kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melaink...
RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi pertamanya ya...
8-18 November 2025 Atelir Ceremai Rawamangun, Jakarta Barat PROSES kreatif berkesenian adalah keseharian hidup Andy SW yang merupakan seniman lintas bidang; sastra, pantom...
MUNGKIN tanpa disadari kecerdasan buatan telah memicu gangguan mental – terutama pada pengguna yang terindikasi rapuh. Umumnya ini dialami generasi muda, baik generasi Y akhir mau...
JIKA seseorang/sekelompok orang ingin menyampaikan kiriman berupa pesan pada seseorang/sekelompok orang, atau sesuatu biasanya akan menyampaikan pesannya secara tertulis di atas k...
DI dalam ruang kelas yang sepi, Nara duduk sendiri sambil menatap jam dinding yang terus berputar. Nara adalah gadis yang cerdas dan pendiam, ia selalu memiliki beribu pertanyaan...