Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
Belakangan ini, banyak yang menanyakan pada saya tentang kasus seorang pejabat terkenal dan kontroversial karena dianggap menyinggung masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu ia meminta maaf, namun justru banyak orang yang tersulut dengan cara permintaan maafnya. Perlu diketahui, saya adalah psikiater yang dipagari etika yang tidak memperbolehkan saya mengomentari apalagi mendiagnosis seseorang hanya dari berita tanpa pemeriksaan khusus. Tulisan ini bukan dalam rangka itu.
Namun, izinkan saya memberikan edukasi untuk kita semua agar bisa mawas diri, tentang apa yang dinamakan Narcistic Apology atau permintaan maaf yang dilakukan orang yang narsistik. Pada intinya, permintaan maaf baiknya tanpa disertai alasan pembenar atau menimpakan kesalahan pada orang lain. Mari belajar dan bercermin pada diri masing-masing, apakah kita pernah melakukannya?
Berikut 13 jenis permintaan maaf orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik:
Contoh kalimat permintaan maaf semacam ini misalnya “Baik! Aku minta maaf, oke!”, “Oke, aku minta maaf, demi Tuhan”, atau “Beri aku waktu istirahat, maafkan aku, oke?”
Setelah membaca jenis permintaan maaf yang narsistik di atas, tentu pembaca akan bertanya, bagaimanakah permintaan maaf yang baik? Permintaan maaf yang baik memiliki sebagian besar atau semua karateristik berikut, di antaranya: tidak mengandung kondisi atau meminimalkan apa yang telah dilakukan; menunjukkan bahwa orang yang meminta maaf memahami dan memiliki empati atas pengalamandan perasaan orang yang tersinggung; menunjukkan penyesalan; menawarkan komitmen untuk menghindari terulangnya perilaku yang menyakitkan di masa depan; menawarkan untuk menebus atau memberikan restitusi jika sesuai. Semoga kita semua dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam mantap jiwa.
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...