Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Belakangan ini, banyak yang menanyakan pada saya tentang kasus seorang pejabat terkenal dan kontroversial karena dianggap menyinggung masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu ia meminta maaf, namun justru banyak orang yang tersulut dengan cara permintaan maafnya. Perlu diketahui, saya adalah psikiater yang dipagari etika yang tidak memperbolehkan saya mengomentari apalagi mendiagnosis seseorang hanya dari berita tanpa pemeriksaan khusus. Tulisan ini bukan dalam rangka itu.
Namun, izinkan saya memberikan edukasi untuk kita semua agar bisa mawas diri, tentang apa yang dinamakan Narcistic Apology atau permintaan maaf yang dilakukan orang yang narsistik. Pada intinya, permintaan maaf baiknya tanpa disertai alasan pembenar atau menimpakan kesalahan pada orang lain. Mari belajar dan bercermin pada diri masing-masing, apakah kita pernah melakukannya?
Berikut 13 jenis permintaan maaf orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik:
Contoh kalimat permintaan maaf semacam ini misalnya “Baik! Aku minta maaf, oke!”, “Oke, aku minta maaf, demi Tuhan”, atau “Beri aku waktu istirahat, maafkan aku, oke?”
Setelah membaca jenis permintaan maaf yang narsistik di atas, tentu pembaca akan bertanya, bagaimanakah permintaan maaf yang baik? Permintaan maaf yang baik memiliki sebagian besar atau semua karateristik berikut, di antaranya: tidak mengandung kondisi atau meminimalkan apa yang telah dilakukan; menunjukkan bahwa orang yang meminta maaf memahami dan memiliki empati atas pengalamandan perasaan orang yang tersinggung; menunjukkan penyesalan; menawarkan komitmen untuk menghindari terulangnya perilaku yang menyakitkan di masa depan; menawarkan untuk menebus atau memberikan restitusi jika sesuai. Semoga kita semua dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam mantap jiwa.
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...