Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Belakangan ini, banyak yang menanyakan pada saya tentang kasus seorang pejabat terkenal dan kontroversial karena dianggap menyinggung masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu ia meminta maaf, namun justru banyak orang yang tersulut dengan cara permintaan maafnya. Perlu diketahui, saya adalah psikiater yang dipagari etika yang tidak memperbolehkan saya mengomentari apalagi mendiagnosis seseorang hanya dari berita tanpa pemeriksaan khusus. Tulisan ini bukan dalam rangka itu.
Namun, izinkan saya memberikan edukasi untuk kita semua agar bisa mawas diri, tentang apa yang dinamakan Narcistic Apology atau permintaan maaf yang dilakukan orang yang narsistik. Pada intinya, permintaan maaf baiknya tanpa disertai alasan pembenar atau menimpakan kesalahan pada orang lain. Mari belajar dan bercermin pada diri masing-masing, apakah kita pernah melakukannya?
Berikut 13 jenis permintaan maaf orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik:
Contoh kalimat permintaan maaf semacam ini misalnya “Baik! Aku minta maaf, oke!”, “Oke, aku minta maaf, demi Tuhan”, atau “Beri aku waktu istirahat, maafkan aku, oke?”
Setelah membaca jenis permintaan maaf yang narsistik di atas, tentu pembaca akan bertanya, bagaimanakah permintaan maaf yang baik? Permintaan maaf yang baik memiliki sebagian besar atau semua karateristik berikut, di antaranya: tidak mengandung kondisi atau meminimalkan apa yang telah dilakukan; menunjukkan bahwa orang yang meminta maaf memahami dan memiliki empati atas pengalamandan perasaan orang yang tersinggung; menunjukkan penyesalan; menawarkan komitmen untuk menghindari terulangnya perilaku yang menyakitkan di masa depan; menawarkan untuk menebus atau memberikan restitusi jika sesuai. Semoga kita semua dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam mantap jiwa.
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...