Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis
Dalih Pembangunan, Tambang Dilegalkan Di negeri khatulistiwa,yang disebut zamrudhilangnya hijau pepohonandari izin ke izindari tangan ke tangannamun tak kunjungmemberikan keted...
Film Doctor Strange, produksi Marvel Cinematic Studio berhasil mempertemukan pemikiran Timur dan Barat tentang ruang dan waktu. Medianya adalah batu waktu (time stone), sarananya adalah mantra atau dalam konteks film ini disebut ‘program’. Film ini, pada plotnya terjadi percakapan antara tokoh utama dr. Strange dengan Kaecilius, tentang dunia yang melampaui ruang dan waktu, intinya tidak ada kematian dan kesengsaran di dunia yang dimaksud. Sederhananya, kata melampaui di sini berarti tidak terikat baik ruang maupun waktu. Perlu dicatat, tulisan ini bukanlah perihal resensi film akan tetapi lebih kepada respon terhadap kalimat pendek “Melampaui medium, ruang dan waktu” dalam konteks dunia seni rupa yang sedang dirayakan pada masa pandemi ini.
[1] Waktu dalam pandangan IBM. Dharma Palguna disebutkan sebagai sebuah penanda terhadap siklus kehidupan yang terkahir yaitu kematian. Kematian dituliskan sebagai penanda terpenting adanya waktu, tanpa adanya kematian, dan proses terjadinya kematian, sulit membayangkan untuk apa waktu itu ada, susah pula memikirkan untuk apa manusia itu hidup.
[2] Ruang dan waktu dalam konsepsinya yang paling sederhana adalah jiwa dan raga, menurut tattwanya, kalau pagi ibarat jiwa, maka malam adalah raga, kalau jiwa bersifat terang maka raga bersifat gelap. Ruang dan waktu oleh sebabnya adalah keberadaan jiwa dan raga, roh dan tubuh, atau yang asbtrak dengan yang nyata, batin dan fisik, material dan tidak material. Lebih lanjut juga dapat dijelaskan bahwa ruang dan waktu mengikat dunia, menciptakan arah mata angin, karena arah adalah bagian dari ruang, ruang adalah saudara waktu. Kalau waktu adalah Kala, maka ruang adalah Bhuta. Manusia diapit oleh Bhuta dan Kala alias ruang dan waktu, oleh sebabnya, siapa manusia yang mampu melampaui ruang dan waktu? Tentu manusia yang terbebas dari ikatan Bhuta maupun Kala.
[3] dalam persoalan medium pada sebuah karya lukisan ruang dan waktu terbaca atas cahaya dan warna. “light is time, but space is color. Painters we call colorists are those who tend to subtitute relation of tonality for relations of value, and who render not only the form, but also shadow and light, and time, through these pure relations of color.” Memahami keberadaan ruang dan waktu dalam lukisan, oleh sebabnya adalah pemahaman atas medium warna, bahwasanya bentuk diwujudkan oleh pergantian relasi nada-nada warna terhadap hubungan nilainya, akan tetapi tidak hanya bentuk yang diwujudkan, melainkan juga bayangan, cahaya, dan keberadaan waktu dalam sebuah karya.
[4] bentuk yang nyata disebut sebagai penanda adanya ruang dan waktu bahwa “form, as it is present in the fine arts, is the art of making clear what is involved in the organization of space and time prefigured in every course of a developing life-experience.”
Oleh sebabnya, melampaui medium, ruang dan waktu adalah melampaui bentuk itu sendiri, terbebas dari konvensi maupun struktur. Bentuk disusun atau tercipta berdasarkan dari pengolahan medium, dari sini kemudian ruang dan waktu itu dapat terbaca, melalui pengalaman hidup yang terus menerus berkembang secara evolutif, lantas bagaimana jika melampauinya? Tentu saja memiliki relasi terhadap konsep ruang dan waktu yang dinyatakan oleh IBM. Dharma Palguna di atas, adalah ketiadaan atau kematian itu sendiri menjadi penanda ruang dan waktu. Melampaui bentuk bisa saja karena segala yang terwujud akan menjadi tidak terwujud, akan tetapi melampaui ruang adan waktu? Entahlah pemikiran saya tidak sampai pada titik bagaimana melampaui ruang dan waktu yang dimaksud. Apakah dalam keabadiankah yang dimaksud berdasarkan pernyataan Kaecilius dalam film Doctor Strange bahwa keabadian adalah ‘beyond time’? Apakah hanya perpindahan media yang dimaksud seperti dari offline menjadi online? Ataukah hanya sekedar melabrak batas konvensional medium itu dikatakan melampaui?
Di dalam dunia seni, seniman selalu berurusan dengan konvensi sekaligus struktur. Boleh saja kemudian menyebutkan bahwa perayaan kekontemporeran hari-hari ini adalah melabrak dan meninggalkan semua konvensi yang sudah dibangun pada garis waktu klasik, tradisi, modern, avant garde, hingga hari ini disebut kekinian itu akan tetapi perlu diingat yang terjadi adalah seniman tidak pernah melabrak strukturnya. Sebab, struktur memiliki relasi dengan bagaimana kita berfikir (how we think) bukan apa yang kita pikirkan (what we think). Seniman tentu saja masih terpenjara oleh konvensi dan struktur, akan tetapi di dalam ruang dan waktu yang berbeda dan di dalam tingkatan yang berbeda, ketradisionalan memiliki konvensi dan strukturnya, begitu juga yang disebut kekinian itu sendiri. Lantas dimanakah melampauinya? Bagaimanakah caranya?
[1] Dharma Palguna, IBM. Waktu dan Kematian. Lombok: Sadampaty Aksara. 2008.
[2] Dharma Palguna, IBM. Manusia Tattwa. Lombok: Sadampaty Aksara. 2018.
[3] Deleuze, Gilles. Francis Bacon The Logic of Sensation. London: Continuum. 2003.
[4] Dewey, John. Art As Experience. New York: The Berkley Publishing Group. 2005.
Dalih Pembangunan, Tambang Dilegalkan Di negeri khatulistiwa,yang disebut zamrudhilangnya hijau pepohonandari izin ke izindari tangan ke tangannamun tak kunjungmemberikan keted...
“SAJAA?” Di Jembrana, kata itu tidak sekadar berarti benarkah? Ia adalah cara orang-orang di Bali Barat menjaga jarak dari kabar yang terlalu cepat dipercaya. Sebuah jeda sebelum...
SEDIKIT genangan air tampak di pelupuk mata. Raut wajahnya berubah setelah mendengar namanya disebut sebagai peraih juara kelas. Aiko Belva Kaswadi (13), akrab disapa Aiko, siswi...
MATAHARI siang menyengat kawasan Catur Muka, Denpasar. Selasa, 23 Desember 2025, jarum jam baru sedikit melewati tengah hari ketika saya melangkah ke arena Denpasar Festival (Denf...
BELAKANGAN santer mengemuka di beranda media sosial kita tentang figur yang sudah menjalankan ikatan perkawinan relatif cukup lama, tetiba tersiar kabar sedang diambang perc...
Solstis, Keheningan, dan Panggilan Kesadaran Global Tanggal 21 Desember menandai winter solstice, saat malam mencapai puncak terpanjang dan siang berada pada titik terpendek. D...
“Isn’t It a Pity,” salah satu lagu paling menyentuh dari George Harrison, diliputi emosi yang dalam dan spiritualitas yang lembut. Mendengarkannya serasa memasuki lanskap eterik,...
MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan dengan konsep kolaboratif lintas...
AL-ARABI, atau Bapak Othmane (Usman) saya dulu memanggilnya, adalah seorang imigran Maroko yang menetap di Castellon de la Plana, kota kecil di pesisir pantai timur Spanyol. Ia pe...
“Philosophy, as I shall try to show, is something intermediate between theology and science.Like theology, it consists of speculations on matters as to which definite knowledge ha...