Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
Film Doctor Strange, produksi Marvel Cinematic Studio berhasil mempertemukan pemikiran Timur dan Barat tentang ruang dan waktu. Medianya adalah batu waktu (time stone), sarananya adalah mantra atau dalam konteks film ini disebut ‘program’. Film ini, pada plotnya terjadi percakapan antara tokoh utama dr. Strange dengan Kaecilius, tentang dunia yang melampaui ruang dan waktu, intinya tidak ada kematian dan kesengsaran di dunia yang dimaksud. Sederhananya, kata melampaui di sini berarti tidak terikat baik ruang maupun waktu. Perlu dicatat, tulisan ini bukanlah perihal resensi film akan tetapi lebih kepada respon terhadap kalimat pendek “Melampaui medium, ruang dan waktu” dalam konteks dunia seni rupa yang sedang dirayakan pada masa pandemi ini.
[1] Waktu dalam pandangan IBM. Dharma Palguna disebutkan sebagai sebuah penanda terhadap siklus kehidupan yang terkahir yaitu kematian. Kematian dituliskan sebagai penanda terpenting adanya waktu, tanpa adanya kematian, dan proses terjadinya kematian, sulit membayangkan untuk apa waktu itu ada, susah pula memikirkan untuk apa manusia itu hidup.
[2] Ruang dan waktu dalam konsepsinya yang paling sederhana adalah jiwa dan raga, menurut tattwanya, kalau pagi ibarat jiwa, maka malam adalah raga, kalau jiwa bersifat terang maka raga bersifat gelap. Ruang dan waktu oleh sebabnya adalah keberadaan jiwa dan raga, roh dan tubuh, atau yang asbtrak dengan yang nyata, batin dan fisik, material dan tidak material. Lebih lanjut juga dapat dijelaskan bahwa ruang dan waktu mengikat dunia, menciptakan arah mata angin, karena arah adalah bagian dari ruang, ruang adalah saudara waktu. Kalau waktu adalah Kala, maka ruang adalah Bhuta. Manusia diapit oleh Bhuta dan Kala alias ruang dan waktu, oleh sebabnya, siapa manusia yang mampu melampaui ruang dan waktu? Tentu manusia yang terbebas dari ikatan Bhuta maupun Kala.
[3] dalam persoalan medium pada sebuah karya lukisan ruang dan waktu terbaca atas cahaya dan warna. “light is time, but space is color. Painters we call colorists are those who tend to subtitute relation of tonality for relations of value, and who render not only the form, but also shadow and light, and time, through these pure relations of color.” Memahami keberadaan ruang dan waktu dalam lukisan, oleh sebabnya adalah pemahaman atas medium warna, bahwasanya bentuk diwujudkan oleh pergantian relasi nada-nada warna terhadap hubungan nilainya, akan tetapi tidak hanya bentuk yang diwujudkan, melainkan juga bayangan, cahaya, dan keberadaan waktu dalam sebuah karya.
[4] bentuk yang nyata disebut sebagai penanda adanya ruang dan waktu bahwa “form, as it is present in the fine arts, is the art of making clear what is involved in the organization of space and time prefigured in every course of a developing life-experience.”
Oleh sebabnya, melampaui medium, ruang dan waktu adalah melampaui bentuk itu sendiri, terbebas dari konvensi maupun struktur. Bentuk disusun atau tercipta berdasarkan dari pengolahan medium, dari sini kemudian ruang dan waktu itu dapat terbaca, melalui pengalaman hidup yang terus menerus berkembang secara evolutif, lantas bagaimana jika melampauinya? Tentu saja memiliki relasi terhadap konsep ruang dan waktu yang dinyatakan oleh IBM. Dharma Palguna di atas, adalah ketiadaan atau kematian itu sendiri menjadi penanda ruang dan waktu. Melampaui bentuk bisa saja karena segala yang terwujud akan menjadi tidak terwujud, akan tetapi melampaui ruang adan waktu? Entahlah pemikiran saya tidak sampai pada titik bagaimana melampaui ruang dan waktu yang dimaksud. Apakah dalam keabadiankah yang dimaksud berdasarkan pernyataan Kaecilius dalam film Doctor Strange bahwa keabadian adalah ‘beyond time’? Apakah hanya perpindahan media yang dimaksud seperti dari offline menjadi online? Ataukah hanya sekedar melabrak batas konvensional medium itu dikatakan melampaui?
Di dalam dunia seni, seniman selalu berurusan dengan konvensi sekaligus struktur. Boleh saja kemudian menyebutkan bahwa perayaan kekontemporeran hari-hari ini adalah melabrak dan meninggalkan semua konvensi yang sudah dibangun pada garis waktu klasik, tradisi, modern, avant garde, hingga hari ini disebut kekinian itu akan tetapi perlu diingat yang terjadi adalah seniman tidak pernah melabrak strukturnya. Sebab, struktur memiliki relasi dengan bagaimana kita berfikir (how we think) bukan apa yang kita pikirkan (what we think). Seniman tentu saja masih terpenjara oleh konvensi dan struktur, akan tetapi di dalam ruang dan waktu yang berbeda dan di dalam tingkatan yang berbeda, ketradisionalan memiliki konvensi dan strukturnya, begitu juga yang disebut kekinian itu sendiri. Lantas dimanakah melampauinya? Bagaimanakah caranya?
[1] Dharma Palguna, IBM. Waktu dan Kematian. Lombok: Sadampaty Aksara. 2008.
[2] Dharma Palguna, IBM. Manusia Tattwa. Lombok: Sadampaty Aksara. 2018.
[3] Deleuze, Gilles. Francis Bacon The Logic of Sensation. London: Continuum. 2003.
[4] Dewey, John. Art As Experience. New York: The Berkley Publishing Group. 2005.
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
HARAP-HARAP cemas, mungkin itu yang sedang dirasakan sekitar 1.200 pelamar yang ikut tes untuk dikontrak jadi guru kelas dan guru penjas di sekolah dasar di Kabupaten Karangasem....
SOAL esek-esek masuk dalam dunia politik itu biasa. Bahkan ada yang nyeletuk, selain sulit pisah dengan nafsu kekuasaan, dunia politik susah juga bercerai dengan nafsu seks. Celet...
GUNUNG di Bali selalu menarik dijelajahi. Beberapa gunung di pulau ini seperti Batur dan Agung memang sudah popular di kalangan para pendaki. Bahkan Batur sudah masuk kategori main...
Jean-Marie Domenach, seorang penulis Prancis yang nasionalis dan progresif, di tahun 1990 menerbitkan bukunya berjudul Europe: Le Delfi Culturel. Buku ini khusus mendiskusikan masa...
Judul : Bob Dylan All The Song The Story Behind Every Track Penulis : Philippe Margotin & Jean Michel Guesdon Penerbit : Black Dog & Leventhal Tahun...
DEBAT tahap pertama pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati Buleleng digelar Senin, 30 Januari 2017, di Hotel Melka, Lovina, Singaraja. Debat itu disiarkan langsung sejumlah ra...
Cerpen: Agus Wiratama AKU adalah lembaran-lembaran kertas buram. Warnaku tak lagi putih seperti kertas-kertas yang selalu disentuh tangan-tangan penuh semangat mahasiswa atau guru-...
SUNGGUH sulit membayangkan kehidupan tanpa humor. Namun anehnya, saya pikir lebih sulit lagi membayangkan humor dapat hidup dalam puisi. Kesan ‘angker’ bahwa puisi selalu anggun da...
SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya. Sebagai warga...