Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan...
HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek b...
Film Doctor Strange, produksi Marvel Cinematic Studio berhasil mempertemukan pemikiran Timur dan Barat tentang ruang dan waktu. Medianya adalah batu waktu (time stone), sarananya adalah mantra atau dalam konteks film ini disebut ‘program’. Film ini, pada plotnya terjadi percakapan antara tokoh utama dr. Strange dengan Kaecilius, tentang dunia yang melampaui ruang dan waktu, intinya tidak ada kematian dan kesengsaran di dunia yang dimaksud. Sederhananya, kata melampaui di sini berarti tidak terikat baik ruang maupun waktu. Perlu dicatat, tulisan ini bukanlah perihal resensi film akan tetapi lebih kepada respon terhadap kalimat pendek “Melampaui medium, ruang dan waktu” dalam konteks dunia seni rupa yang sedang dirayakan pada masa pandemi ini.
[1] Waktu dalam pandangan IBM. Dharma Palguna disebutkan sebagai sebuah penanda terhadap siklus kehidupan yang terkahir yaitu kematian. Kematian dituliskan sebagai penanda terpenting adanya waktu, tanpa adanya kematian, dan proses terjadinya kematian, sulit membayangkan untuk apa waktu itu ada, susah pula memikirkan untuk apa manusia itu hidup.
[2] Ruang dan waktu dalam konsepsinya yang paling sederhana adalah jiwa dan raga, menurut tattwanya, kalau pagi ibarat jiwa, maka malam adalah raga, kalau jiwa bersifat terang maka raga bersifat gelap. Ruang dan waktu oleh sebabnya adalah keberadaan jiwa dan raga, roh dan tubuh, atau yang asbtrak dengan yang nyata, batin dan fisik, material dan tidak material. Lebih lanjut juga dapat dijelaskan bahwa ruang dan waktu mengikat dunia, menciptakan arah mata angin, karena arah adalah bagian dari ruang, ruang adalah saudara waktu. Kalau waktu adalah Kala, maka ruang adalah Bhuta. Manusia diapit oleh Bhuta dan Kala alias ruang dan waktu, oleh sebabnya, siapa manusia yang mampu melampaui ruang dan waktu? Tentu manusia yang terbebas dari ikatan Bhuta maupun Kala.
[3] dalam persoalan medium pada sebuah karya lukisan ruang dan waktu terbaca atas cahaya dan warna. “light is time, but space is color. Painters we call colorists are those who tend to subtitute relation of tonality for relations of value, and who render not only the form, but also shadow and light, and time, through these pure relations of color.” Memahami keberadaan ruang dan waktu dalam lukisan, oleh sebabnya adalah pemahaman atas medium warna, bahwasanya bentuk diwujudkan oleh pergantian relasi nada-nada warna terhadap hubungan nilainya, akan tetapi tidak hanya bentuk yang diwujudkan, melainkan juga bayangan, cahaya, dan keberadaan waktu dalam sebuah karya.
[4] bentuk yang nyata disebut sebagai penanda adanya ruang dan waktu bahwa “form, as it is present in the fine arts, is the art of making clear what is involved in the organization of space and time prefigured in every course of a developing life-experience.”
Oleh sebabnya, melampaui medium, ruang dan waktu adalah melampaui bentuk itu sendiri, terbebas dari konvensi maupun struktur. Bentuk disusun atau tercipta berdasarkan dari pengolahan medium, dari sini kemudian ruang dan waktu itu dapat terbaca, melalui pengalaman hidup yang terus menerus berkembang secara evolutif, lantas bagaimana jika melampauinya? Tentu saja memiliki relasi terhadap konsep ruang dan waktu yang dinyatakan oleh IBM. Dharma Palguna di atas, adalah ketiadaan atau kematian itu sendiri menjadi penanda ruang dan waktu. Melampaui bentuk bisa saja karena segala yang terwujud akan menjadi tidak terwujud, akan tetapi melampaui ruang adan waktu? Entahlah pemikiran saya tidak sampai pada titik bagaimana melampaui ruang dan waktu yang dimaksud. Apakah dalam keabadiankah yang dimaksud berdasarkan pernyataan Kaecilius dalam film Doctor Strange bahwa keabadian adalah ‘beyond time’? Apakah hanya perpindahan media yang dimaksud seperti dari offline menjadi online? Ataukah hanya sekedar melabrak batas konvensional medium itu dikatakan melampaui?
Di dalam dunia seni, seniman selalu berurusan dengan konvensi sekaligus struktur. Boleh saja kemudian menyebutkan bahwa perayaan kekontemporeran hari-hari ini adalah melabrak dan meninggalkan semua konvensi yang sudah dibangun pada garis waktu klasik, tradisi, modern, avant garde, hingga hari ini disebut kekinian itu akan tetapi perlu diingat yang terjadi adalah seniman tidak pernah melabrak strukturnya. Sebab, struktur memiliki relasi dengan bagaimana kita berfikir (how we think) bukan apa yang kita pikirkan (what we think). Seniman tentu saja masih terpenjara oleh konvensi dan struktur, akan tetapi di dalam ruang dan waktu yang berbeda dan di dalam tingkatan yang berbeda, ketradisionalan memiliki konvensi dan strukturnya, begitu juga yang disebut kekinian itu sendiri. Lantas dimanakah melampauinya? Bagaimanakah caranya?
[1] Dharma Palguna, IBM. Waktu dan Kematian. Lombok: Sadampaty Aksara. 2008.
[2] Dharma Palguna, IBM. Manusia Tattwa. Lombok: Sadampaty Aksara. 2018.
[3] Deleuze, Gilles. Francis Bacon The Logic of Sensation. London: Continuum. 2003.
[4] Dewey, John. Art As Experience. New York: The Berkley Publishing Group. 2005.
HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek b...
Musik baru adalah kesinambungan tradisi musik klasik, yang mewakili perintisan dan kreativitas dari musik klasik tersebut. Lagi pula, musik baru dapat merangkum elemen dari banya...
NYEPI merupakan hari raya umat Hindu yang diperingati setiap tahun. Menjelang tahun baru Saka, berbagai ucapan sudah dipasang dan dipajang di sepanjang jalan. Berbagai lembaga, o...
Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian. Perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada panitia “Festival Monolog 100 Putu Wijaya” y...
//Meong meong alih ja bikule/ Bikul gede gede / Buin mokoh mokoh /Kereng pesan ngerusuhin/Juk meng… Juk kul..// BEGITU lagu ‘Meong-meong’ mengalun lincah dan meriah di kalangan An...
Buku : Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya Penulis : Lugina W.G dkk Hal : 256 hlm ISBN : 978-602-391-147-9 Cetakan 1 : Mei 2016 Penerbit : DIVA Press MERAWAT tradisi, itulah...
PRAMOEDYA Ananta Toer menyatakan bahwa, Negara yang tidak tahu sejarah adalah negara budak, budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Sebab, sejarah sebagai guru da...
TEPUK tangan bersahutan usai tarian “Sesapi Ngundang Ujan” dipentaskan di atas panggung. Pandangan mata ratusan pengunjung di Bentara Budaya Bali masih terpaku pada bentangan layar...
KEMARIN sore Pekak Renes main ke rumah. Tumben lumayan rapi, bercelana panjang berkemeja putih, mirip Jokowi. Sambil ngopi ia bercerita kangin-kauh, mulai dari krisis ekonomi sampa...
ADA yang dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Bali dalam menata pembangunan Bali, yaitu air. Air dalam sejarah peradaban Bali memiliki peran paling vital, baik secara spiritua...