Membaca Nasionalisme Indonesia dari “Kiri”
SABTU hingga Minggu, 1-2 September 2018, kami, Keluarga Besar Jurusan Pendidikan Sejarah, Undiksha Singaraja, mengadakan Ramah Tamah Jurusan atau biasa disebut “Clio Anjangsana” ya...
Film Doctor Strange, produksi Marvel Cinematic Studio berhasil mempertemukan pemikiran Timur dan Barat tentang ruang dan waktu. Medianya adalah batu waktu (time stone), sarananya adalah mantra atau dalam konteks film ini disebut ‘program’. Film ini, pada plotnya terjadi percakapan antara tokoh utama dr. Strange dengan Kaecilius, tentang dunia yang melampaui ruang dan waktu, intinya tidak ada kematian dan kesengsaran di dunia yang dimaksud. Sederhananya, kata melampaui di sini berarti tidak terikat baik ruang maupun waktu. Perlu dicatat, tulisan ini bukanlah perihal resensi film akan tetapi lebih kepada respon terhadap kalimat pendek “Melampaui medium, ruang dan waktu” dalam konteks dunia seni rupa yang sedang dirayakan pada masa pandemi ini.
[1] Waktu dalam pandangan IBM. Dharma Palguna disebutkan sebagai sebuah penanda terhadap siklus kehidupan yang terkahir yaitu kematian. Kematian dituliskan sebagai penanda terpenting adanya waktu, tanpa adanya kematian, dan proses terjadinya kematian, sulit membayangkan untuk apa waktu itu ada, susah pula memikirkan untuk apa manusia itu hidup.
[2] Ruang dan waktu dalam konsepsinya yang paling sederhana adalah jiwa dan raga, menurut tattwanya, kalau pagi ibarat jiwa, maka malam adalah raga, kalau jiwa bersifat terang maka raga bersifat gelap. Ruang dan waktu oleh sebabnya adalah keberadaan jiwa dan raga, roh dan tubuh, atau yang asbtrak dengan yang nyata, batin dan fisik, material dan tidak material. Lebih lanjut juga dapat dijelaskan bahwa ruang dan waktu mengikat dunia, menciptakan arah mata angin, karena arah adalah bagian dari ruang, ruang adalah saudara waktu. Kalau waktu adalah Kala, maka ruang adalah Bhuta. Manusia diapit oleh Bhuta dan Kala alias ruang dan waktu, oleh sebabnya, siapa manusia yang mampu melampaui ruang dan waktu? Tentu manusia yang terbebas dari ikatan Bhuta maupun Kala.
[3] dalam persoalan medium pada sebuah karya lukisan ruang dan waktu terbaca atas cahaya dan warna. “light is time, but space is color. Painters we call colorists are those who tend to subtitute relation of tonality for relations of value, and who render not only the form, but also shadow and light, and time, through these pure relations of color.” Memahami keberadaan ruang dan waktu dalam lukisan, oleh sebabnya adalah pemahaman atas medium warna, bahwasanya bentuk diwujudkan oleh pergantian relasi nada-nada warna terhadap hubungan nilainya, akan tetapi tidak hanya bentuk yang diwujudkan, melainkan juga bayangan, cahaya, dan keberadaan waktu dalam sebuah karya.
[4] bentuk yang nyata disebut sebagai penanda adanya ruang dan waktu bahwa “form, as it is present in the fine arts, is the art of making clear what is involved in the organization of space and time prefigured in every course of a developing life-experience.”
Oleh sebabnya, melampaui medium, ruang dan waktu adalah melampaui bentuk itu sendiri, terbebas dari konvensi maupun struktur. Bentuk disusun atau tercipta berdasarkan dari pengolahan medium, dari sini kemudian ruang dan waktu itu dapat terbaca, melalui pengalaman hidup yang terus menerus berkembang secara evolutif, lantas bagaimana jika melampauinya? Tentu saja memiliki relasi terhadap konsep ruang dan waktu yang dinyatakan oleh IBM. Dharma Palguna di atas, adalah ketiadaan atau kematian itu sendiri menjadi penanda ruang dan waktu. Melampaui bentuk bisa saja karena segala yang terwujud akan menjadi tidak terwujud, akan tetapi melampaui ruang adan waktu? Entahlah pemikiran saya tidak sampai pada titik bagaimana melampaui ruang dan waktu yang dimaksud. Apakah dalam keabadiankah yang dimaksud berdasarkan pernyataan Kaecilius dalam film Doctor Strange bahwa keabadian adalah ‘beyond time’? Apakah hanya perpindahan media yang dimaksud seperti dari offline menjadi online? Ataukah hanya sekedar melabrak batas konvensional medium itu dikatakan melampaui?
Di dalam dunia seni, seniman selalu berurusan dengan konvensi sekaligus struktur. Boleh saja kemudian menyebutkan bahwa perayaan kekontemporeran hari-hari ini adalah melabrak dan meninggalkan semua konvensi yang sudah dibangun pada garis waktu klasik, tradisi, modern, avant garde, hingga hari ini disebut kekinian itu akan tetapi perlu diingat yang terjadi adalah seniman tidak pernah melabrak strukturnya. Sebab, struktur memiliki relasi dengan bagaimana kita berfikir (how we think) bukan apa yang kita pikirkan (what we think). Seniman tentu saja masih terpenjara oleh konvensi dan struktur, akan tetapi di dalam ruang dan waktu yang berbeda dan di dalam tingkatan yang berbeda, ketradisionalan memiliki konvensi dan strukturnya, begitu juga yang disebut kekinian itu sendiri. Lantas dimanakah melampauinya? Bagaimanakah caranya?
[1] Dharma Palguna, IBM. Waktu dan Kematian. Lombok: Sadampaty Aksara. 2008.
[2] Dharma Palguna, IBM. Manusia Tattwa. Lombok: Sadampaty Aksara. 2018.
[3] Deleuze, Gilles. Francis Bacon The Logic of Sensation. London: Continuum. 2003.
[4] Dewey, John. Art As Experience. New York: The Berkley Publishing Group. 2005.
SABTU hingga Minggu, 1-2 September 2018, kami, Keluarga Besar Jurusan Pendidikan Sejarah, Undiksha Singaraja, mengadakan Ramah Tamah Jurusan atau biasa disebut “Clio Anjangsana” ya...
LONTAR koleksi Pusat Dokumentasi Bali cukup banyak sangat-sangat meragukan. Judul dan isi beberapa tidak sesuai. Beberapa lainnya tidak jelas sumbernya, beberapa penulisan Bali-ny...
BATUK dan bersin merupakan refleks normal tubuh untuk membersihkan lendir atau benda asing yang menyumbat atau mengiritasi dari saluran pernafasan. Batuk dan bersin bukanlah suatu...
SAYA datang ke Festival Tepi Sawah di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, sudah agak telat. Di hari pertama, Sabtu 8 September 2018, ketika tiba pada keramaian yang sejuk di tepi sawah, se...
EUFORIA Asian Games 2018 beberapa hari lalu memang masih terngiang di benak masyarakat Indonesia. Terlebih setelah Indonesia berhasil menduduki posisi 4 besar di bawah negara China...
Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia kembali diluncurkan. Para pewarta warga di mana saja diajak membuat karya dengan beragam bentuk d...
AKHIRNYA mimpi saya jadi kenyataan setelah 20 tahun. LimpBizkit menutup hajatan musik Soundrinaline 2018 dengan sempurna. Hampir semua tembang hits di eranya berhasil dibawakan sec...
FILM horor selalu laku. Bioskop senantiasa ramai, penonton ngantri untuk menonton setan, hantu, dan kawan-kawan. Terakhir yang juga laris dan selalu diomongkan orang adalah film Pe...
SORE itu, di bawah cuaca yang agak mendung, kami dari Pendamping Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Karangasem menunggu kedatangan seorang relawan. Nama relawan itu sudah begitu fami...
AYO siap-siap ke Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng. Sekitar 400 buah durian sudah siap dibelah, dicicip, dimakan, dalam Festival Makan Duren, selama sehari, Minggu 4 Maret 2018....