Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Beberapa di antara kita mungkin heran, kehadiran kita semua di dunia ini tercipta atau lahir dari proses bercinta ayah dan ibu tapi kenapa kita begitu mudah membenci satu sama lain? Apakah kadang-kadang sumber kehidupan kita tidak sejalan dengan aktivitas sehari-hari? Itu yang ingin coba saya bahas dalam tulisan kali ini.
Teman-teman sekalian mungkin berpikir, karena latar belakang saya dokter maka saya akan banyak mengulas soal kebencian yang ada sekarang. Seperti sebuah kasus yang sedang dalam proses di Polda Bali, tentang membenturkan dokter dengan masyarakat, kebebasan berpendapat (freedom of speech) versus ujaran kebencian (hate speech).
Saya tidak akan mengulas soal itu karena sudah banyak orang yang membahas sejak tiga hari belakangan. Saya tidak ingin memenuhi ruang publik, ruang baca ini dengan perbincangan-perbincangan yang tiada akhir. Saya ingin melihat dari segi kesehatan mental; banyak orang berpikir rasa benci dan rasa cinta itu tempatnya sama, hanya terbalik saja. Jadi benci lawannya adalah cinta. Itulah mengapa ada yang awalnya membenci lama-lama jadi cinta, atau dari yang dari awalnya cinta lama-lama menjadi benci. Tapi benarkah itu yang terjadi dalam otak kita?
Saya mencoba mencari literatur dan menemukan salah satu penelitian di University College London, UK. Pada penelitian tersebut ada beberapa subjek yang dilakukan scan otak berdasarkan fungsinya. Dicari, apakah ada kesamaan tempat atau area aktif dari perasaan benci dan cinta. Hasilnya, area dua emosi itu berlainan. Di beberapa area tampak sangat berbeda, kesamaannya hanya pada dua tempat yaitu pada Putamen dan Insula. Putamen adalah bagian otak yang bertanggung jawab pada gerakan untuk mengantisipasi apa yang kita pikirkan, dalam hal ini kaitannya adalah ketika cinta kita berusaha melakukan gerakan melindungi orang yang kita sayangi dan cintai.
Sama halnya ketika kita membenci, kita mempersiapkan diri melakukan gerakan untuk menyerang orang-orang yang kita benci. Jadi area otaknya sama. Kemudian yang kedua adalah pada Insula. Bagian otak ini bertanggung jawab untuk perasaan jealousy, atau cemburu dan iri hati. Ternyata perasaan cinta dan benci itu mempunyai aktivitas area otak yang sama dengan rasa cemburu dan iri hati. Ini menarik, karena dalam cinta wajar saja kalau ada rasa cemburu. Itu boleh saja, yang tidak boleh adalah curiga berlebihan karena itu seringkali justru menjadi masalah dalam sebuah hubungan percintaan. Rasa cinta berbagi hal sama dengan rasa benci karena berisi dengan kecemburuan dan iri hati yang sama.
Hal yang cukup berbeda ternyata di area Prefrontal Cortex yang bertanggung jawab soal perencanaan, logika dan problem solving, bagaimana memecahkan masalah menggunakan logika. Pada rasa cinta aktivitas otak subyek yang diteliti menurun. Ini mungkin ada kaitannya dengan beberapa istilah dari orang yang mengatakan ketika kita jatuh cinta akal sehat kita kadang-kadang dinomorduakan.
Kalau dilihat dari hal ini kelihatannya mengarah pada kesimpulan itu. Dan, untuk rasa benci ternyata aktivitas otak meningkat. Jadi ketika kita membenci seseorang kita berusaha memaksimalkan bagian logika kita untuk mencari kesalahan-kesalahan dan mengaitkannya dengan logika yang ada di masyarakat.
Dari hasil penelitian itu dapat kita lihat area otak yang bertanggung jawab pada rasa cinta dan rasa benci berbeda. Sedangkan di beberapa literatur mengatakan, aktivitas otak yang penuh kebencian juga memberikan sinyal buruk pada organ-organ di kesehatan fisik kita. Kekakuan pembuluh darah kita akan makin cepat sehingga menimbulkan risiko mengalami penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan jantung. Apakah itu hipertensi, kolesterol, termasuk risiko mengalami gangguan jantung. Tentu saja pembuluh darah itu kalau terganggunya di bagian otak bisa menyebabkan stroke. Jadi ternyata sangat berbahaya jika kita menyuburkan rasa benci di dalam diri, yang bisa berpengaruh buruk bukan saja pada kesehatan mental tetapi juga kesehatan fisik.
Coba deh kita pikir-pikir, lebih baik kita banyak menebar cinta, mengucapkan rasa cinta dalam diri daripada mengungkapkan dan menularkan kebencian. Toh yang dirugikan nantinya adalah diri kita sendiri. Semoga kita semua selalu dalam keadaan jiwa raga. Selalulah ingat bahwa kita lahir dari proses percintaan, jadi tiada guna saling membenci. Salam mantap jiwa. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...