Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
Salah satu isu menarik dan sempat ramai diperdebatkan dalam dinamika pandemi Covid-19 ini adalah, bagaimana sebetulnya cara penularan virus penyebab wabah ini. Apalagi saat seorang drummer band terkenal melemparkan tantangannya untuk diizinkan bersalaman dengan seorang pasien Covid-19 yang sedang opname di rumah sakit. Ia hakul yakin, virus itu takkan menulari tubuhnya. Di lain pihak, institusi medis tentu tak menanggapi tantangan ini karena jelas-jelas melanggar protokol kesehatan wabah Covid-19.
Tentu saja respon otoritas kesehatan yang mengabaikan tantangan ini langsung menjadi amunisi bagi kalangan yang terlanjur skeptis terhadap pemerintah untuk menuduh pemerintah dan tim medis memang berada di balik konspirasi Covid-19. Ini sebuah gambaran wajah bopeng masyarakat yang telah terpolarisasi akibat pola komunikasi konservatif di pihak medis dan pemerintah berhadapan dengan budaya pengkultusan seorang idola yang senantiasa disanjung di saat benar maupun keliru.
Gagasan anti sains bukanlah perkara baru. Masih pada isu yang sama, orang sekaliber Donald Trump saja sempat dikritik banyak pihak lantaran sikapnya yang tampak kolot tak mencerminkan sosok modern dan ilmiah. Pernyataan kontroversialnya pada awal wabah antara lain, virus corona itu buatan China yang nota bene adalah seteru bisnisnya, oleh karenanya virus ini takkan bisa masuk ke daratan Amerika Serikat.
Lebih konyol lagi ia menyarankan penyuntikan desinfektan pada manusia untuk mencegah masukknya virus SARS-Cov-2 dan yang paling heboh adalah keengganannya memakai masker yang merupakan protokol kesehatan wajib Covid-19. Ini semua bisa terjadi meski ia terus mendapat masukan dan saran dari Anthony Fauci, seorang dokter dan pakar penyakit infeksi yang menjabat sebagai direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases sejak 1984. Sering kali memang, sains dikalahkan oleh sikap keras kepala. Inilah pula yang terjadi saat sekelompok orang menyangsikan bumi ini bulat dan lebih percaya bumi itu datar. Maka, jika saja tantangan sang drummer diladeni untuk bersalaman dengan pasien pengidap Covid-19 dan lalu ia sendiri akhirnya tak tertular, bukan berarti penyakit ini memang tak menular.
Teori penyakit infeksi dan penularannya, hingga saat ini masih menganut akibat terjadinya perubahan keseimbangan dari host (inang), agent (kuman penyebab) dan envirounment (lingkungan). Jelas sekali, dalam hal ini minimal ada tiga faktor yang menentukan. Atau dengan kata lain, dalam isu di atas, penularan penyakit inifeksi tidak hanya tergantung pada proses bersalaman dengan penderita saja (lingkungan). Pada aspek lingkungan, ia masih memerlukan determinan-determinan lain seperti kontak yang lebih erat sesuai dengan cara penularan penyakit tersebut.
Pada penularan virus corona yang saat ini masih disepakati melalui droplet, yaitu kuman terbawa bersama lendir/dahak yang keluar dari saluran nafas maka kontak lebih erat tentunya bukan bersalaman tangan, melainkan tatap muka tanpa masker atau berciuman misalnya. Makin sering aktifitas kontak ini terjadi, risiko penularan akan semakin besar. Hal yang sama terjadi pada penularan penyakit infeksi lain, misalnya HIV. Diketahui virus HIV hanya bisa ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh pengidapnya dengan orang lain yang masih sehat. Dalam hal ini adalah darah dan cairan kelamin. Cara transmisi yang paling umum dilaporkan adalah melalui kontak seksual. Namun sekali melakukan hubungan seks dengan penderita belum menjamin terjadi penularan. Semakin tinggi frekwensi kontak semakin besar risiko penularan yang akan terjadi. Meskipun demikian, ini pun belum dapat memastikan akan terjadi penularan.
Faktor kedua yang juga sangat besar pengaruhnya adalah keadaan imunitas inang itu sendiri. Itulah kenapa pada populasi dengan imunitas yang sangat baik, Covid-19 bahkan tak bergejala sama sekali (asimptomatik) dan sebaliknya pada kelompok dengan daya tahan tubuh yang rentan, misalnya pada usia lanjut, anak-anak atau pada mereka yang sudah mengidap penyakit kronis sebelumnya seperti paru, jantung atau diabetes, virus corona dapat dengan mudah menjadi pembunuh berdarah dingin. Terakhir tentu saja, virus itu sendiri. Sebagai spesies yang memiliki insting untuk lestari, semua virus akan berusaha dengan segala cara mempertahankan dirinya dari kepunahan.
Salah satu tentunya adalah bermutasi dan yang lain tentu saja dengan menyusup pada spesies lain untuk berkembang biak. Virus corona telah melakukannya dengan sangat baik. Generasi terdahulu virus corona seperti SARS dan MERS saat ini sudah nyaris tak terdengar lagi. Kita pun berpikir virus ini telah benar-benar lenyap dari muka bumi, faktanya ia kembali sebagai Covid-19 yang lebih invasif dan infeksius. Meski dibandingkan dengan SARS atau MERS daya bunuh Covid-19 lebih kecil, namun kecepatan penularanannya telah membuat siapapun geleng-geleng kepala. Dan ia telah meraih mahkota (corona) pandeminya dengan saat ini telah menginfeksi 18 juta manusia dibumi dan 680 ribu nyawa telah direnggutnya.
Memahami tiga faktor yang selalu menentukan terjadinya penyakit infeksi dan penularannya menjadi penting untuk kita saat ini. Hanya melihat masalah dari satu sudut pandang saja dapat membuat kita terlalu mudah menarik kesimpulan yang keliru. Kesimpulan dan persepsi yang keliru sering kali tak hanya menjerumuskan diri sendiri namun sebagai sebuah fenomena sosial hal itu dapat menyeret yang lain ke dalam situasi rumit dan berbahaya. Maka betul tampaknya satu ucapan sederhana yang pernah saya dengar ini. Wabah ini akan lebih cepat berakhir sesungguhnya bukanlah semata-mata karena protokol kesehatan yang ketat atau vaksin yang telah ditemukan, namun wabah akan lebih cepat usai jika kita bersatu. [T]
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahp...
PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan melemparkannya ke arah depan, seolah men...
APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era reformasi bukan pada keamanan akan tetapi tidak adanya kepastian hukum. Ada tiga&...
Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif mas...
PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdeka...
“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam perg...
JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni adalah bulan kelahiran dan kewafatan Bung...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk jenjang S1, S2, S3, profesi,...
“Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya, Made Jembar sedang men...