Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Ini adalah dongeng kesekian yang telah saya baca. Tapi ini adalah dongeng pertama yang kisahnya saya dengar langsung dari penulis, serta orangtua tokoh. Saat membaca, ada rasa gemes dan juga lucu. Dongeng ini menceritakan seorang anak kecil berusia 4 tahun pada tahun 2018 lalu. Anak ini bernama Kadek Kayu Hujan. Anak kedua dari penulis Dongeng Kayu, Kade Sonia Piscayanti.
Dalam dongeng ini mengisahkan Kayu yang mogok sekolah. Entah karena apa, belum tau sebab musabanya. Pokoknya tidak mau sekolah. Segala bujuk rayu dari A sampai Z bahkan hal terakhir dari Z sudah dilakukan agar si Kayu mau sekolah tapi tidak berhasil. Sampai waktu 2 bulan lamanya Kayu berada di rumah karena tidak mau sekolah. Sambil tetap mencari tau, Ibu Sonia dan Pak Ole membiarkan Kayu mengikuti semua proses kreatif di di Rumah Belajar Mahima. Dari menggambar, bernyanyi, bercerita hingga menonton.
Sampia akhirnya ketahuan kenapa Kayu tidak mau sekolah. Kayu merasa dipermalukan didepan teman-temannya karena dia tidak sengaja pipis di celana saat berbaris. Teman-temannya semua tertawa. Kayu diam saja. Biasa saja. Celananya diganti oleh Ibu guru. Sampai di rumah ngambek. Tidak mau sekolah. Kayu mengatakan Ibu guru dan teman-temannya tidak sayang padanya. Ada-ada saja Kayu ini. Gemesshh.
Pernah sesekali saya tanya Kayu, kenapa dia tidak mau sekolah. Tanpa beban dengan entengnya dijawab, “Buat apa sekolah, lebih baik di rumah bersama keluarga.” Saya tak tau harus berkata apa. Lalu saya tanya lagi tidakkah dia rindu teman-teman di sekolah. Alih-alih dijawab, dilirik pun tidak. Malah ngeloyor pergi, asyik sibuk sendiri.
Kayu mah santuy. Libur panjang coy. 2 bulan gitu loohh. Tapi yang gak santuy ya kedua orangtuanya. Berat memang menghadapi kemauan anak yang terkadang diluar nalar. Apalagi seperti Kayu yang sangat random. Sebentar begini, sebentarnya lagi begitu. Tapi mereka tetap sabar menghadapi Kayu. Yah namanya juga orangtuanya seniman ya, ada-ada saja cara untuk bisa membujuk Kayu. Metode pengasuhannya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Apapun kegiatan mereka, sebisa mungkin Kayu ada di dalamnya. Seperti halnya kegiatan Kayu melukis selama libur panjang (tepatnya meliburkan diri). Hasil karyanya dipajang di beberapa sudut dinding agar tamu yang dtang melihat karyanya. Sehingga Kayu sendiri merasa dihargai dan diakui.
Hal-hal kecil seperti itu sudah seharusnya dilakukan. Walaupun bagi kita orang dewasa hal itu adalah hal kecil dan terbilang remeh temeh, tapi bagi seorang anak seusianya adalah hal yang luar biasa. Melihat karyanya dipajang dan dilihat banyak orang pastinya menimbulkan kebahagiaan tersendiri. Merasa diakui dan dihargai keberadaannya. Itu yang pertama.
Yang kedua, dari dongeng Kayu ini bisa dipelajari, orangtua tak harus memaksakan kehendak dan nafsunya untuk menyekolahkan anak. Dalam kasus yang dialami oleh Kayu ini memang harus memerlukan kesabaran ekstra. Anak tak bisa dipaksa. Biarkan dia memilih serta mengambil keputusan. Karena anak memiliki hak untuk itu, walau usianya masih kecil. Tapi tetap dalam kontrol orang tua.
Yang ketiga, biarkan anak melakukan aktivitas yang ia sukai. Sekali lagi dia berhak mendapatkannya. Dan sekali lagi tetap dalam pengawasan orangtua. Jika ingin melarang melakukan hal yang melenceng, lakukan dengan cara yang berbeda. Alihkan perhatiannya dan tuntun ia untuk melakukannya secara rutin tanpa harus membentak dan mengatakan tidak dengan tegas. Karena tanpa sengaja kita bisa melakukan kekerasan terhadap anak secara verbal. Bukan fisik yang tersakiti. Tapi hati dan pikiran, yang bisa saja beranggapan, apa-apa selalu tidak boleh. Dan mengganggap dirinya tidak berguna. Jadi bisa diperbaiki cara memberitahu anak tanpa harus menyakiti hatinya. Jikapun harus berkata TIDAK, sertakan alasan dan jelaskan kepadanya dengan hati-hati. Ingat, daya ingat anak sangat kuat. Dan kerap menjadi peniru yang baik. Apapun yang dikatakan kepadanya, maka ia akan katankan yang sama. Jangan sampai salah menjelaskan ya Moms, Dad.
Dan yang yang keempat adalah ada pada orangtua. Sikap orangtua sangat menentukan bagaimana anak itu bertindak. Dalam dongeng Kayu ini Bunda Sonia dan Ayah Ole selalu menghujani Kayu dengan kasih sayang. Segala kebutuhan Kayu berusaha dipenuhi tapi tidak terkesan membuat Kayu menjadi manja. Mereka tidak pernah melarang Kayu melakukan aktivitas yang dilakukan. Dan tetap harus diawasi. Sebab yang sering terjadi pada anak, semakin ia dilarang maka semakin ia akan melanggar. Semakin tinggi rasa ingin taunya. Jadi carilah cara yang berbeda. Mengajarkannya berpantomim misalnya. Hehehehe.
Itu dari segi isi yang bisa saya tafsirkan menurut pemikiran saya yang belum memiliki anak dan berpengalaman soal anak beranak. Maklum belum ada yang menghalalkan. Hahaha. Dan yang terakhir dari tampilannya dengan hard cover dan hard paper terlihat sangat mewah. Dongeng Kayu yang simple dan mudah dipahami ini terkesan mahal. Tampilan yang colorful dan ilustrasi garapan Henny nampak pas dengan karakter Kayu. Pokoknya bagus. Bukan saya memuji atau mengangung-agungkan, tapi begitulah menurut saya. Tidak tau bagaimana menurut anda.
Spoilernya segitu dulu. Kalau masih penasaran kelanjutan ceritanya, boleh dibeli bukunya. Dibaca! Jangan dipajang! Ini penting! [T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....