Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Awalnya hanya karena penasaran dengan kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh dosen, lalu saya tertarik kegiatan pengabdian, menjadi volunteer, atau hal sejenisnya, maka saya berkunjung ke Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Untuk pertama kalinya saya mengunjungi ke desa itu. Dengan dalih niatan membantu dosen dalam program pengabdian, saya menemukan hal menarik, yakni aktivitas sehari-hari warga sekitar, terutama anak-anak yang rata-rata menekuni keterampilan menganyam bambu. Tentu saja, ini hal yang berbeda ketika banyak anak-anak seumuran mereka yang memilih bermain gadget. Nah…sangat-sangat langka dan berbeda bukan di era modernisasi seperti sekarang?
Pekerjaan ini sudah menjadi bagian warisan nenek moyang yang patut di lestarikan oleh warga Desa Tigawasa. Bisa dikatakan, sampai sekarang hampir sebagian besar warga desa menekuni bidang usaha anyaman, yang termasuk golongan UMKM ini. Berkunjung ke Desa Tigawasa, tak heran, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan bambu yang menjadi ciri khas di sekitaran rumah-rumah warga. Bukan tanpa alasan, bambu sudah menjadi bagian penghidupan bagi warga Desa Tigawasa, serta desa-desa lain yang termasuk bagian masyarakat Bali Aga, di Buleleng.
Kunjungan pertama saya di tanggal 21 Juli 2020 ke Desa Tigawasa disambut antusias oleh warga sekitar. Etos masyarakat yang ramah tamah sangat kental terasa, bahkan diantara mereka tidak malu-malu untuk menyapa atau bertanya. Fokus utama saya ketika berkunjung ialah mengamati aktivitas warga sekitar yang tergabung dalam kelompok UMKM peganyam bambu I Putu Suriasa.
Produk yang dihasilkan kelompok UMKM Putu Suriasa alias Kelaceng, dinilai sangat inovatif, kreatif, dan bervariasi. Kelaceng, panggilan akrabnya, selalu mengikuti trend permintaan di pasaran, dan juga menerima pesanan khusus dari pelanggannya. Namun, mendengar cerita Kelacaeng di masa pandemi seperti sekarang, produk anyaman bambu yang diproduksinya seperti (Bedeg, Sokasi, Tempat Tissue, Saab, Tas, dan produk inovasi rumah tangga lainnya) sepi permintaan di pasaran. Alhasil produknya banyak diserahkan ke distributor, seperti pengepul atau dijual langsung dengan harga lebih murah.
“Saya sempat menjual sokasi ukuran sedang, seharga 20 ribu saat musim korona, normalnya sekitar 70 ribuan. Apalagi dari sebelumnya saya tidak ada bakat pemasaran, hanya sebagai pekerja saja. Promosi di facebook saja baru-baru musim korona begini saya tau, masih gaptek teknologi. Yaa…sudah dicoba baru-baru ini lumayan ada yang laku saya jual di facebook, karena masih sepi musim korona,” cerita I Putu Suriasa.
Saat berkunjung ke kediamannya, Suriasa mengaku belum memiliki banyak stok produk, karena sepinya permintaan dan terkendala distribusi langsung saat pandemi, iamengurangi produksi produk-produk anyaman tersebut. Meski begitu, untungnya ada beberapa pesanan khusus dari pelanggan yang masih ia terima, sehingga masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat seperti sekarang, ia dan kelompok sedang merancang sokasi dan jenis produk anyaman sejenis dengan kreasi baru, agar saat permintaan kembali stabil produknya tetap dapat bersaing dan diterima di pasaran.
Aktivitas rutin sebagai pengrajin bambu tidak serta-merta dilakukannya sendiri, ia juga turut mengajarkan kepada anak-anaknya. Salah satunya adalah Ketut Ayu Wirayanti, anak ke-empat yang sangat piawai menganyam bambu. Berkat didikan sang ayah, Ayu panggilan akrabnya berhasil meraih juara 1 Nasional bidang keterampilan menganyam bambu yang diselenggrakan oleh Kemenristekdikti tahun lalu. I Putu Suriasa, sebagai orang tua menceritakan secara menggebu-gebu atas prestasi Ayu yang menjadi kebanggaan keluarga, dan warga Desa Tigawasa tersebut. Selain mendidik anak-anaknya agar bisa melestarikan budaya anyaman bambu, ia juga sering melibatkan anak-anak tetangga sekitar agar mau belajar.
“Saya juga tetap mengajarkan anak-anak disini yang mau belajar untuk ikut melestarikan anyaman ini, setiap pulang sekolah saya sering ajak, mereka ikut membantu saya, tetelah itu sebagai apresiasi karena mau belajar, yaaa saya gajih supaya mereka semangat dan ada tambahan bekal kesekolah.”
Untuk bahan baku diperoleh dari ladang sendiri, terutama bambu yang diambil secara langsung, jadi ketika ditanya modal yang dikeluarkan untuk memproduksi produk anyaman ini, Putu Suriasa cukup sulit memberikan total nilai yang ia keluarkan.
Selain itu bahan tambahan yang diperlukan tentu saja alat-alat, aksesoris tertentu dan cat sebagai tambahan untuk aksen kreasi. Meski tidak mengetahui pasti modal awal dan total biaya yang ia keluarkan untuk usahanya, namun ia bisa memastikan bahwa sejauh ini laba tetap stabil ia peroleh.
Sekian tahun menekuni profesi sebagai penganyam bambu, ia sangat berharap untuk regenerasi atau keturunannya bisa meneruskan usaha ini, dan ikut melestarikan budaya warisan Desa Tigawasa. Terutama agar lebih baik lagi pada aspek pemasaran dan perencanaan keuangan yang selama ini kurang ia perhatikan, harapannya tentu saja kepada anak-anaknya yang lebih paham penggunaan teknologi, karena ia mengaku sejauh ini kurang berbakat di sistem tata kelaola.
“Biarlah anak-anak saya saja, saya tidak cocok…cukup jadi pekerja saja, nanti supaya anak saya yang memanajemen,” tutupnya. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...