Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Kosongkanlah jantungku dari nafas-nafas, kosongkanlah akalku dari ilmu pengetahuan, kosongkanlah hatiku dari rasa peduli, rasa kasih sayang, cinta dan begitu juga kesengsaraan, pedih, dan kesia-siaan. Lenyapkanlah badanku, pengelihatanku, pendengaranku, nalarku, dan segala yang berbentuk.
Ini aku yang hanya sementara dan mengharap terus mengharap pada dunia yang juga sementara. Kenapa mereka selalu menyuruhku untuk bercita-cita, sedangkan hidup ini adalah kesementaraan, terus mereka menjawab lagi, agar hidup ini berarti dan memiliki tujuan. Aku rasa hidup ini adalah kebetulan, aku tidak mempunyai hak memilih menjadi selain manusia. Aku juga tak dapat memilih keluarga yang aku inginkan dilahirkan, negara, agama, warna kulit dan lainnya.
Kenapa harus aku yang mengisi kehidupan ini dengan bercita-cita. Ketika semua telah tercapaipun aku akan kembali pada ketiadaan. Tiada, berpulang, atau mati. Dan ketercapaianpun begitu banyak hal harus dilakukan, termasuk kecurangan, membunuh, mengelabuhi dan dengan cara-cara merugikan orang lain, hak orang lain. Apa benar ada kehidupan setelah kematian Tuhan. Aku bertanya terus menerus prihal itu. Apa mungkin segala ilmu kepercayaan hanya tafsiran belaka.
Aku tulis sajak tentang Meninggal-kan :
Aku menanggalkan tanggung jawab kebiasaan-kebiasaan sebagai manusia.
Apa mungkin aku kelelahan,
Apa mungkin ini juga kebosanan,
Apa ini juga tekanan.
Aku tak begitu mengerti.
Harta, tahta jabatan, kuasa kini juga ku tinggalkan,
Bahkan yang paling berhargapun bernama kasih sayang,
Semuaku kubur dalam jeruji besi yang bernama kesepian.
Selesai, tiada tempat dan tiada waktu.
Aku menginginkan diriku apa yang aku inginkan terhadap diriku, bukan apa yang orang lain inginkan terhadap diriku, lepas dari ikatan apapun, keluarga, teman, dan apalah lagi. Apa aku terlalu egois, apa memang seperti itu, bahwa orang lain tak pantas meng-intervensi individu lainnya.
Kenapa yang aku rasa setiap orang yang membantu orang kesusahan, baik itu memberi, mereka itu berhak mengendalikan, memanfaatkan orang yang telah ia bari bantuan dan terlebih ia harus bersikap hormat, patuh. Ku rasa timbal balikpun wujud kemunafikan. Apa kebaikan hanya muncul oleh ke’maka’an. Jika ia baik maka kita baik. Jika ia buruk maka kita harus buruk padanya. Hal itu akan melahirkan keterikatan, dan segala bentuk keterikatan adalah penindasan. Ia akan menindas berupaya mengendalikan.
Aku begitu kebingungan setelah memiliki akal dan memfungsikannya, dan begitu juga telah ku hubungkan dengan hati nurani. Semuanya menjadi sangat ambigu, relatif, paradoks, tiada kemutlakan, tiada yang sejati. Meski aku dapatkan arti dari perjalanan, namun berubah lagi tak berarah.
Bukannya aku tertarik pada kehidupan setelah kematian begitu juga surge yang dibicarakan banyak orang tentang bidadarinya, makanan, hidup bahagia.
Kembali ku tulis sajak tentang Diriku :
Aku ingin kembali dalam kekosongan,
dalam ketiadaan.
Jika orang-orang berlomba mencari pencapaian
dan juga pengakuan
dan melahirkan kecurangan,
keburukan sekaligus kekejian.
Maka aku tidak tertarik untuk ikut serta
aku memilih mundur,
dalam kekosongan, namun berisi.
Selesai, tiada tempat dan tiada waktu.
“Aku tidak akan mati maupun lenyap begitu saja dan akupun tak sekadar hidup, aku bersemayam dalam kata ”
Lahir 16 Juni 1998. Hidup dan besar di pulau Bali yang konon katanya pulau surga, tetapi ia hanyalah anak biasa saja.
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...