Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Kosongkanlah jantungku dari nafas-nafas, kosongkanlah akalku dari ilmu pengetahuan, kosongkanlah hatiku dari rasa peduli, rasa kasih sayang, cinta dan begitu juga kesengsaraan, pedih, dan kesia-siaan. Lenyapkanlah badanku, pengelihatanku, pendengaranku, nalarku, dan segala yang berbentuk.
Ini aku yang hanya sementara dan mengharap terus mengharap pada dunia yang juga sementara. Kenapa mereka selalu menyuruhku untuk bercita-cita, sedangkan hidup ini adalah kesementaraan, terus mereka menjawab lagi, agar hidup ini berarti dan memiliki tujuan. Aku rasa hidup ini adalah kebetulan, aku tidak mempunyai hak memilih menjadi selain manusia. Aku juga tak dapat memilih keluarga yang aku inginkan dilahirkan, negara, agama, warna kulit dan lainnya.
Kenapa harus aku yang mengisi kehidupan ini dengan bercita-cita. Ketika semua telah tercapaipun aku akan kembali pada ketiadaan. Tiada, berpulang, atau mati. Dan ketercapaianpun begitu banyak hal harus dilakukan, termasuk kecurangan, membunuh, mengelabuhi dan dengan cara-cara merugikan orang lain, hak orang lain. Apa benar ada kehidupan setelah kematian Tuhan. Aku bertanya terus menerus prihal itu. Apa mungkin segala ilmu kepercayaan hanya tafsiran belaka.
Aku tulis sajak tentang Meninggal-kan :
Aku menanggalkan tanggung jawab kebiasaan-kebiasaan sebagai manusia.
Apa mungkin aku kelelahan,
Apa mungkin ini juga kebosanan,
Apa ini juga tekanan.
Aku tak begitu mengerti.
Harta, tahta jabatan, kuasa kini juga ku tinggalkan,
Bahkan yang paling berhargapun bernama kasih sayang,
Semuaku kubur dalam jeruji besi yang bernama kesepian.
Selesai, tiada tempat dan tiada waktu.
Aku menginginkan diriku apa yang aku inginkan terhadap diriku, bukan apa yang orang lain inginkan terhadap diriku, lepas dari ikatan apapun, keluarga, teman, dan apalah lagi. Apa aku terlalu egois, apa memang seperti itu, bahwa orang lain tak pantas meng-intervensi individu lainnya.
Kenapa yang aku rasa setiap orang yang membantu orang kesusahan, baik itu memberi, mereka itu berhak mengendalikan, memanfaatkan orang yang telah ia bari bantuan dan terlebih ia harus bersikap hormat, patuh. Ku rasa timbal balikpun wujud kemunafikan. Apa kebaikan hanya muncul oleh ke’maka’an. Jika ia baik maka kita baik. Jika ia buruk maka kita harus buruk padanya. Hal itu akan melahirkan keterikatan, dan segala bentuk keterikatan adalah penindasan. Ia akan menindas berupaya mengendalikan.
Aku begitu kebingungan setelah memiliki akal dan memfungsikannya, dan begitu juga telah ku hubungkan dengan hati nurani. Semuanya menjadi sangat ambigu, relatif, paradoks, tiada kemutlakan, tiada yang sejati. Meski aku dapatkan arti dari perjalanan, namun berubah lagi tak berarah.
Bukannya aku tertarik pada kehidupan setelah kematian begitu juga surge yang dibicarakan banyak orang tentang bidadarinya, makanan, hidup bahagia.
Kembali ku tulis sajak tentang Diriku :
Aku ingin kembali dalam kekosongan,
dalam ketiadaan.
Jika orang-orang berlomba mencari pencapaian
dan juga pengakuan
dan melahirkan kecurangan,
keburukan sekaligus kekejian.
Maka aku tidak tertarik untuk ikut serta
aku memilih mundur,
dalam kekosongan, namun berisi.
Selesai, tiada tempat dan tiada waktu.
“Aku tidak akan mati maupun lenyap begitu saja dan akupun tak sekadar hidup, aku bersemayam dalam kata ”
Lahir 16 Juni 1998. Hidup dan besar di pulau Bali yang konon katanya pulau surga, tetapi ia hanyalah anak biasa saja.
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...