Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Sore itu cuaca amat panas di jalan raya. Setelah memasuki Kulidan Space, suasana terasa sejuk. Diskusi yang dibawa oleh penulis pada tanggal 12 Februari 2020 membuat suasana hidup. Ada sekali waktu,sang Moderator I Komang Adiartha merefleksikan dengan apa yang terjadi di Bali dari diskusi buku berjudul Melawan Setan Bermata Runcing. Diskusi buku dan karya seni itu menimbulkan pertanyaan baru bagi siapapun yang ingin jadi sukarelawan. Pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan untuk membawa perubahan bagi komunitas tempat sukarelawan mengabdi selama beberapa waktu?
Sukarelawan Untuk Perubahan: Ilustrasi oleh Oceu Apristawijaya
“Menjadi Sukarelawan haruslah rendah hati agar kita dapat mengamati dari dekat hal hal yang tengah berlangsung dan menetapkan perubahan yang diinginkan sebagai tujuan yang harus dicapai bersama.”
Kutipan tersebut berasal dari Aditya Dipta Anindita yang menjadi salah satu kontributor buku Melawan Setan Bermata Runcing. Kutipan itu dipajang di dinding Kulidan kitchen di sebelah gamar seni di atas.
Pada karya seni di atas , seorang sukarelawan berpakaian modern , bersepatu boot, dengan memikul tas ransel sedang menjalani kehidupan bersama dengan pemuda dari orang Rimba di Sumatera. Sukarelawan ini bekerja sama mengumpulkan bahan bahan untuk dijadikan kayu bakar , kerajinan dan makanan. Latar belakang pepohonan sagu di belakang dua orang itu menunjukkan bahwa makanan pokok orang Indonesia tidak selalu beras. Sagu menjadi makanan penting bagi orang rimba seperti halnya beras bagi orang kota.
Kadang kadang sukarelawan yang datang ke komunitas pedalaman dapat membawa dampak yang tidak diharapkan bagi mereka. Ada sukarelawan yang disponsori oleh lembaga besar datang ke suatu komunitas terpencil lalu memberikan sarana dan prasarana yang menurut lembaga itu baik padahal belum tentu diperlukan untuk komunitas.
Komunitas lokal adalah subjek bukan objek bagi sukarelawan. Menjadi sukarelawan dengan niat baik dan belas kasih saja tidak cukup karena itu dapat berakhir sia sia. Sebagai contoh di komunitas orang rimba, ada sukarelawan memberikan ayunan dan panjat panjatan untuk anak anak rimba. Anak anak rimba biasa memanjat pohon, dahan dan bebatuan di tempat mereka tinggal dan bermata pencaharian. Ini seperti mengajari ikan berenang. Barang yang diberikan relawan itu berakhir jadi rongsokan bagi komunitas.
Ada contoh kasus lain dimana relawan dari LSM memberikan fasilitas agar siswa dapat belajar secara digital. Padahal mereka belum dapat akses MCK, air bersih dan listrik yang memadai. Sekolah tempat mereka belajar belum layak toilet dan perpustakaannya. Peralatan untuk pendidikan digital justru tidak relevan dengan siswa itu.
Oleh karena itu, sebelum memberikan bantuan, para sukarelawan harusnya hidup bersama sama komunitas minimal sebulan penuh agar memahami masalah yang mereka hadapi. Saling berdialog dua arah. Jangan mendikte komunitas karena berasal dari lembaga besar yang ingin jadi dewa penolong. Mereka yang paling tahu masalahnya dan punya kearifan untuk menyelesaikannya. Sukarelawan yang sejati adalah untuk memfasilitasi pemberdayaan komunitas tempat dimana mereka tinggal.
Untuk itu, membangun kepercayaan dengan komunitas adalah proses terpenting sebelum mulai merencanakan pemberian bantuan materi dan non materi agar paham kebutuhannya dan tepat sasaran. Relawan berperan sebagai pendamping bukan menggurui. Sebagai contoh di komunitas rimba ada ibu ibu yang cuci pakaian di jamban umum karena kurangnya akses MCK. Seharusnya sukarelawan yang ada di sana dapat mendirikan fasilitas toilet yang layak dan mencukupi. Ini akan menghemat waktu perempuan mencuci pakaian dan mereka dapat melakukan aktivitas berikutnya untuk pemberdayaan diri dan komunitasnya.
Rusaknya lingkungan yang berakibat pada kerawanan pangan. Ini masalah yang harus diperhatikan oleh relawan sebelum beri bantuan agar sesuai dengan kebutuhan komunitas. Oleh karena itu relawan perlu “live in” dimana melibatkan diri dengan keseharian komunitas. Relawan harus rendah hati mau mendengar dan menghormati budaya komunitas. Rutinitas kita tidak sama oleh karena itu harus tunduk pada rutinitas komunitas.
Relawan untuk perubahan harus siap dengan resiko. Komunitas rimba punya dasar kuat gotong royong. Jangan bawa budaya individualisme ke sana. Jika seorang sukarelawan ingin perubahan maka dia harus datang melihat dari dekat dan dengar langsung persoalan yang dihadapi komunitas. Fasilitas baca tulis untuk anak anak rimbah oleh sokola adalah untuk pemberdayaan, pelrindungan hak dan keselamata mereka bukan tujuan akhir itu sendiri supaya mereka dapat melek huruf. Menjadi sukarelawan untuk perubahan bukan untuk jadi selebriti yang dikenal masyarakat untuk dapat ratusan ribu tanda jantung merah di media online. Sukarelawan harus siap dengan resikonya. Bukan mencari keuntungan pribadi tapi memberi apa yang dibutuhkan komunitas.
Kita datang ke komunitas rimba dengan pertanyaan bukan memberi jawaban atas masalah yang mereka hadapi. Kemudian saat ingin jadi sukarelawan harus siap dan tidak terganggu dengan rasa khawatir pada resiko yang akan dihadapi , benar benar bekerja sepenuh hati dan dorongan untuk dapat penghargaan dari dalam diri yang lebih utama diatas penghargaan eksternal. [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...